Sabtu, 05 Februari 2022

Agar Muslimah siap Menikah #08

 



                Nasihat yang ke-7 adalah kehidupan yang hendak dibangun dalam rumah tangga bukan sekedar hidup bersama, sebab kehidupan suami-istri itu adalah kehidupan sepasang yang terdiri dari dua orang. Oleh karena itu menjadi kewajiban masing-masing untuk menjauhi keterlibatan pihak ketiga dalam permasalahan rumah tangga, kecuali jika keterlibatan pihak ketiga itu adalah pendapat atau ide-ide terpuji dan saling memberikan nasihat yang disyariatkan dan itu disampaikan dengan cara  terbaik.

                Kehidupan suami istri dan bukan hanya kehidupan dua orang yang bersama, namun ini mencakup sejumlah aspek.

Ø    Aspek pertama, dalam semua rahasia wahai muslimah waspadailah jangan sampai menampilkan, membocorkan rahasia suamimu kepada orang lain siapapun dia. Diantara rahasia yang paling jelek ketika keluar darinya adalah rahasia yang terjadi di antara kalian berdua suami istri saat diatas tempat tidur.

                 Terdapat hadis yang sahih dari Abu Sa'id al-khudri radhiyallahu Anhu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat ialah seseorang yang menyetubuhi istrinya dan istri bersetubuh dengan suaminya, kemudian suami menyebarkan rahasia istrinya.” (HR Muslim 1437)

                An-Nawawi rahimahullahu ta'ala ketika menjelaskan hadits ini beliau mengatakan dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang haramnya tindakan seorang suami menyebarluaskan apa yang terjadi antara dia dengan istrinya yaitu perkara berkaitan dengan cumbuan dan deskripsi rinci tentang hal tersebut. Maka  apa yang dilakukan oleh seorang wanita saat itu terjadi, kata-kata apa yang dia keluarkan atau perbuatan apa yang dilakukan dan semacam itu ini yang terlarang.

                Adapun semata-mata menyebutkan Jima’ misalnya seorang mengatakan saya habis Jima’ dengan istri (secara global) dan tidak rinci maka kata Nawawi jika tidak ada padanya manfaat dan itu bukanlah satu hal yang dibutuhkan hukumnya makruh. Alasannya karena ini adalah hal yang tidak selaras dengan menjaga kehormatan dan nama baik dan termasuk dalam sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam “Siapa yang betul-betul beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia bertutur kata yang baik atau diam. (HR Al-bukhari dan Muslim).

                Berkenaan dengan ini kita jumpai pelajaran dari perkataan Imam An-Nawawi mengatakan bahwasanya “menceritakan Jima’ itu ada dua macam ; pertama, menceritakan detail jima’ misalnya kata-kata apa yang keluar dari istri atau perbuatan apa yang dilakukan oleh istri saat hubungan biologis itu terjadi. Maka ini hukumnya haram karena hubungan yang terjadi antara suami-istri ini adalah di hadis yang pertama tadi adalah amanah (rahasia) yang paling besar sehingga menceritakannya berarti tidak aman dan amanah disini. Kemudian yang kedua adalah menceritakan Jima’ menceritakan adanya dan terjadinya hubungan biologis. Seorang laki-laki mengatakan “saya seger nih habis kumpul sama istri” misalnya maka hukumnya makruh jika tidak ada faidah, tidak ada hajat. Maka sekedar detail ini biasa terjadi pada testimoni atau iklan obat kuat kalau sekedar cerita global mengenai masalah manfaat obat kuatnya terbukti semalam ini berarti cerita Global. Maka jika tidak ada kebutuhan tidak hajat untuk bercerita maka ini termasuk dalam hadits maka hendaknya diam dan perintah diam ini adalah permintaan dan berkata-kata disini nilainya makruh. Jika detail manfaat obat kuat itu kemudian bisa ngapain saja semalam begini-begini, maka hukumnya kata Nawawi adalah haram.

Ø    Aspek kedua, dalam mengatasi  problem dan menterapi problem sejak awal maka bukanlah cara-cara khas wanita yang berakal yaitu tergopoh-gopoh bersegera ketika ada sedikit problem antara istri dengan suami.

                Bukanlah wanita yang berakal sehat, ada sedikit problem langsung tergopoh-gopoh lapor kepada ibunya, kakak perempuannya, sahabat perempuannya lantas dia sebarkan problem yang terjadi antara dia dengan suaminya dengan sudut pandang kacamata pihak perempuan. Tentu saja seringkali karena yang ngomongnya itu istri maka dia berbicara dalam posisi sebagai pihak yang terzalimi. Kemudian pihak yang dilapori tadi ibu, saudara perempuan atau temen tadi akan menyampaikan kepadanya sejumlah pendapat dan pendapat orang-orang ketiga ini tidak akan menambah problem kecuali semakin ruwet dan semakin susah. Maka keterlibatan dan kehadiran pihak ketiga dalam problem suami istri meskipun itu keluarga ini tidak akan menjadi solusi.

                 Maka berupaya untuk melatih diri untuk mengurai masalah wahai seorang istri dengan bersama suamimu  selesaikan sendiri tanpa memperlibatkan pendapat pihak-pihak ketiga ini nasehat dari penulis. Hendaknya suami istri ini berlatih untuk bersikap dewasa dalam hal ini diantara bentuk kedewasaannya adalah mampu menyelesaikan problem diselesaikan sendiri tanpa melibatkan pihak ketiga meskipun itu keluarga sendiri. Oleh karena itu sebagian orang mengatakan keributan suami-istri itu seperti keributan kakak beradik. Misalnya rebutan main bola atau rebutan mobil-mobilan, pagi ribut nanti siang sudah damai dan sudah main bareng lagi. Syaratnya manakala orang dewasa tidak ikut terlibat namun jika orang dewasa ikut terlibat maka kelihatannya ributnya itu kayaknya serius gawat sekali. Padahal ternyata kalau mereka berdua yang menyelesaikan sendiri tanpa keterlibatan pihak yang ketiga itu cepet selesai pagi ribut siangnya sudah bisa main bareng lagi, begitu juga suami istri ketika ada masalah atau problem selesaikan sendiri tanpa melibatkan pihak ketiga, sama-sama mau menyelesaikan sendiri, terbuka, mau ngobrol. Bisa jadi siang ribut nanti malam sudah bisa Jima’ itu kondisi keributan suami istri.

                Orang yang masuk dalam problem tersebut semacam seorang yang dia tidak mendengar dari dua belah pihak sehingga dia hanya mengambil pendapatmu, dia memberikan keputusan atau memberikan wasiat atau memerintahkan satu hal. Maka apakah ini satu hal yang adil? jawabannya tentu tidak. Tidak ada putusan dan nasihat yang objektif dan adil kecuali setelah mendengar dua belah pihak. Betul terkadang problem itu demikian gawat sehingga perpecahan itu demikian besar belahannya terbuka yang awalnya satu robekan. Maka jika keadaannya demikian tidaklah mengapa keterlibatan pihak yang ketiga. Perhatikan syaratnya, dia (pihak ketiga) adalah orang yang Akil orang yang mengedepankan akal artinya orang yang bijak. Dia adalah seorang yang bijaksana orang yang berakal, bijaksana, bisa menyimpan rahasia dan tidak akan menyimpulkan secara tegas kecuali setelah mendengar dua belah pihak boleh melibatkan satu orang atau lebih.

                Sebagaimana firman Allah ta'ala

 “Jika kalian khawatir terjadi perpecahan diantara suami istri maka kirimkan satu juri unding dari keluarga suami dan satu juri ruding dari keluarga istri jika keduanya menginginkan perbaikan maka Allah akan satukan, lembutkan diantara keduanya. Sesungguhnya  Allah adalah Dzat yang maha mengetahui. Dan di ayat ini menurut ada hal yang menarik yaitu jika dua juri runding itu menginginkan perbaikan maka Allah akan satukan keduanya.

                 Janganlah pesan ini jangan sampai hilang ketika terjadinya problem selalu yaitu pesan yang menginginkan perbaikan, maka janganlah yang dipikirkan adalah semata-mata bisa menang menghadapi suamimu dan bisa menghinakannya. Wahai seorang istri yang shalihah hendaknya niatmu adalah kembali kepada suami dan kembalinya suami kepadamu dan hal ini yaitu adanya niat untuk damai yang memiliki manfaat yang sangat banyak kalau kedua belah pihak itu damai. Maka yang ditanamkan adalah:

·                     Akan mencari alasan-alasan pemakluman

·                  Kalau keinginannya adalah keinginan untuk damai maka akan mudah untuk memaafkan                         kesalahan pasangan

·                     Memilih untuk bertutur kata yang baik, diksi, pemilihan kata dan dengan ucapan  yang

                  lembut

·                     Kedua belah pihak masing-masing mengalah dan tidak kekeuh (ngotot).

 

 Ketika membangun komunikasi setelah ribut atau pada saat ribut maka hendaknya masing-masing itu niatannya adalah perbaikan dan berdamai. Bukan niatnya menang-menangan namun niatnya adalah ingin kembali damai, kembali nyaman dengan suami dan suami kembali kepada kepada sang istri. Kalau semangatnya itu adalah semangatnya dalam membangun komunikasi adalah kedamaian maka ada lima manfaat seperti yang poin di atas.

Ø    Aspek ketiga, Memulai kehidupan rumah tangga itu adalah kehidupan suami-istri dan bukan hanya kehidupan dua orang hidup bersama, namun juga dua orang dalam masalah merawat anak. maka idealnya tidak terdapat porsi yang di luar suami dan istri terlalu banyak dalam mendidikan anak mereka. Pendidikan anak jangan berikan banyak pada sekolah, jalanan, tetangga atau pun pada pembantu.

                Engkau wahai seorang engkaulah lebih yang perhatian dengan dan yang bertanggungjawab tentangnya, maka semestinya porsi terbanyak pendidikan anak itu ada di orang tua . Hal yang tidak benar ada jika porsi pendidikan anak yang paling banyak diserahkan kepada pembantu, tetangga, guru TPA, pengurus mesjid atau kepada sekolah ini ada error dalam keluarga ini. Keluarga ini bukan hakekatnya pasangan suami-istri, namun cuma dua orang hidup baru satu rumah. Kalau memang betul-betul suami istri, ayah dan ibu mereka akan kerjasama yang bagus untuk mendidik buah hati keduanya.

                 Nabi Shallallahu alaihi wasallam menyampaikan "seorang wanita seorang ibu itu pemimpin untuk keluarga suaminya dan anak-anak suaminya dan seorang ibu akan dimintai pertanggungjawaban tentang anak-anaknya". (HR Al-Bukhari)

                Betapa indahnya jika seorang anak itu mendapatkan asuhan dari wadah yang sama, dari tempat minum yang sama, jika di hadapan seorang anak ada berbagai macam tempat minum maksudnya didikan orang tua itu beda dengan didikan sekolah, masjid maka rusaklah keadaan aneh ini dan tidak memungkinkan bagi engkau seorang ibu untuk menguasai perilaku anak di masa depan.               Dan boleh jadi jika tidak membangun komunikasi yang baik dengan sekolah dan masjid, maka engkau seorang ibu membangun dari satu sisi sedangkan pihak yang lainnya menghancurkan dari sisi yang lain. Boleh jadi engkau wahai seorang ibu membimbing anak untuk supaya ada di  dirinya hal-hal yang wajib yang bersifat baku, namun  lihat pada pihak ketiga terdapat arahan-arahan yang itu menggoncangkan akhlak yang sudah bersifat permanen, maka oleh karena itu janganlah engkau biarkan anakmu itu ditangani pendidikannya dan pengawasannya oleh orang lain.

                Sudah semestinya di rumahmu demikian juga di rumah suamimu terdapat perilaku-perilaku dan rancangan besar tentang pendidikan yang ini boleh jadi rancangan besar cetak biru Pendidikan anak itu beda, yang ini ada padamu dan suamimu berbeda dengan cara pendidikan pihak lain. Misalnya, cara pendidikan kerabat-kerabatmu, keponakan-keponakanmu dari saudara laki-laki, saudara perempuanmu. Oleh karena itu janganlah engkau lalai untuk mengontrol perilaku anak, baik anak laki-laki ataupun anak perempuan setelah beberapa waktu lamanya bergaul dengan keponakan keponakan.

                Disini disampaikan cara mendidik antara orang tua itu bisa saja berbeda meskipun sama-sama satu keluarga. Oleh karena itu, diantara diantara hal yang dilakukan setelah anak itu habis main ke tetangga atau main bareng dengan sepupunya dengan keponakan, maka dicek dapat apa saja ketika main bersama tetangga, ketika main sama saudara-saudara sepupunya dapat apa. Kontrollah perilaku yang didapatkan kemudian koreksi jika ada pemahaman yang keliru. Jika sudah ada sikap-sikap yang tepat maka perteguh dan kuatkan.

Ø    Aspek keempat, tentang rumah dan isinya maka tidak boleh ada sesuatu yang masuk ke rumah kecuali dengan izin suami dan tidak ada sesuatu yang keluar dari rumah kecuali dengan izin suami, ingat ini adalah bagian dari hak suami yang wajib pun kau penuh. Hendaklah jujur dalam hatimu tentang sejauh mana engkau menghormati kedudukan suami dan pengakuanmu kepada suami. Dan bahwasanya suami adalah kepala rumah tangga, pimpinan. Maka secara umum, kehidupan rumah tangga itu, harta-harta keluarga adalah harta suami, rumah keluarga adalah rumah suami atau minimal rumah yang dikontrak oleh suami.

                Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam,  bersabda tentang dirimu wahai istri “ketika engkau di rumah bahwasanya engkau adalah pemimpin untuk keluarga suamimu dan anak-anak suamimu yang juga anak-anakmu dan kau akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka semua itu.

                Di riwayatkan At Tirmidzi oleh Abu Umam Al-Bahili ra mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda saat khutbah nabi di tahun hajjatul Wada “tidak boleh seorang wanita membelanjakan sedikitpun dari harta suaminya yang ada di rumah suaminya kecuali dengan izin suami”. Ada seorang istri yang bertanya pada Rasulullah “boleh tidak bersedekah dengan bahan makanan nasi beras kepada kerabat yang datang dan yang lainnya?” maka nabi kata, “bahan makanan itu adalah harta kami lelaki yang terbaik maka tidak boleh diberikan tanpa seijin suami karena itu harta terbaik suami adalah menyiapkan bahan makanan untuk istrinya dan keluarganya”.

                Dan ingat satu hal yang patut dicamkan oleh seorang muslimah sebelum menikah bahwasannya ketika wanita itu meminta izin kepada suaminya untuk keluar rumah untuk ini dan itu maka itu janganlah dinilai negatif yang menunjukkan ini penguasaan suami terhadap istri dan jangan dimaknai dengan keterlibatan mau menguasai istri. Namun seorang Istri minta izin kepada suami itu hendaknya dimaknai sebagai bukti yang paling nyata kalau seorang istri itu menghargai hak-hak pergaulan suami-istri dengan memperhatikan hak suami karena rumah adalah rumah suami, penghasilan adalah penghasilan suami dan untuk istri maka harus izin, ada pun penghasilan yang murni adalah penghasilan istri dan harta khusus milik istri maka seorang istri itu merdeka dalam membelanjakannya, dia boleh membelanjakannya tanpa izin suami sebagaimana pendapat mayoritas para ulama meskipun menganjurkan untuk izin dan ngomong kepada suami. 


Kamis, 03 Februari 2022

Agar Muslimah siap Menikah #07

 


Diantara ketulusan cinta kepada Allah dan rasul-nya adalah mencintai orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-nya dan rasul mencintai istri-Istrinya dan mencintai para sahabatnya".

                Nasihat keenam adalah bagian dari mencintai suami adalah mencintai orang-orang yang dicintai oleh suami dan kaidah ini berlaku untuk suami dan istri, dalam pengertian bagian dari mencintai suami adalah mencintai keluarga suami dan bagi dari mencintai istri adalah mencintai keluarga istri. Tidaklah aneh rasa cintanya seorang wanita dengan suaminya, akan tetapi bagian dari ketulusan rasa cinta kepada suami adalah mencintai orang-orang yang dicintai oleh suami terutama ayah dan ibu suami, saudara laki-laki, saudara perempuan suami demikian juga teman-teman dekat suami.

                Sebaliknya juga demikian maka diantara bukti ketulusan cinta kepada istri adalah mencintai orang-orang yang dicintai oleh istri; mencintai orang tua istri ayah dan ibu istri, saudara laki laki dan  perempuannya demikian juga mencintai dalam pengertian baik dengan kawan-kawan istri. Oleh karena itu diantara ketulusan cinta kepada Allah dan Rasul-nya adalah mencintai orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-nya dan Rasul mencintai istrinya Istrinya dan mencintai para sahabatnya. Sangat aneh jika mengaku cinta Rasul namun benci dengan semua istri rasul dan semua para sahabat rasul dan ini cinta yang dusta.

                Jadi demikian juga antara ketulusan cinta dan bakti seorang anak kepada Ayahnya adalah menjalin hubungan dengan orang yang dicintai oleh ayahnya meskipun ayahnya telah meninggal dunia.

Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam “kebaikan atau Bakti yang paling Bakti adalah menjalin hubungan baik dengan orang yang dekat di hati ayah setelah Ayah meninggal dunia (diriwayatkan oleh muslim).

                 Demikian juga maka engkau wahai seorang Muslimah, jika engkau adalah orang yang tulus dalam cintamu kepada suamimu maka cintailah orang-orang yang dicintai oleh suamimu terutama orang tua suami. Dengan cara nampakanlah di depan mertua sikap memuliakan, mendoakan, rasa cinta diantara bentuknya adalah senang, gembira ketika melihat keduanya dan bersikap kepada keduanya sebagaimana sikap suami kepada aorang tuannya. Sikap seorang anak kepada kedua orangtuanya yaitu adab penghormatan, cium tangan kalau-kalau dalam budaya orang Arab ada cium kepala kening, menanyakan kabar keduanya dan berulang kali mengunjungi keduanya.

                Terutama dalam hal ini untukmu wahai muslimah terutama kepada Ibu suami maka telah menjadi budaya wanita sejak zaman dulu dan zaman sekarang terdapat seringkali terjadi dalam tanda kutip peperangan yang sengit antara istri dengan ibu mertuanya yang boleh jadi karena pasangan suami istri ini malah keduanya menjadi alat peperangan diantara para ibu, seringkali terjadi peperangan antara ibu mertua dengan menantu perempuannya maka disini dipesankan oleh penulis secara khusus berikanlah sikap yang baik terutama kepada Ibu suami.

                Diantara hal yang unik yang dipesankan oleh ibu kepada pada salah satu anak perempuannya yang hendak menikah dengan mengatakan “kewajibanmu wahai pemimpin anak-anak perempuan untuk durhaka kepada suamimu sampai akhir hidup suami. Rutinkanlah mencemburui suami dan mencacinya dan perangilah setiap hari Ibu suami, jauhkanlah antara ibu suami dengan suami dan mata ibu mertua Panaskanlah demikian juga mata suami”.

                 Dan Ibu yang lainnya berpesan pada anak perempuannya yang demikian berbakti “aku wasiatkan orang yang baik hatinya, merdeka. Aku pesankan bersikap baik kepada anjing dan aku pesankan untuk berbuat buruk kepada saudara suami, maka jangan engkau bosan untuk memukulinya dan menariknya sehingga engkau melihat manisnya kehidupan pahit.

                Maka dua Ibu ini demi allah tidaklah berwasiat yang baik pada putrinya. Dan mayoritas kerusakan istri itu adalah dari pintu ini yaitu wasiat ibu yang tidak benar terutama jika ibunya itu adalah betul-betul orang yang berkurang akalnya. Namun betapapun keadaan ibu suami yaitu ibu mertua berbuat salah, teledor maka perlu kita ketahui wahai kamu seorang istri yang baik bahwasanya ibu mertua itu adalah pengganti ibumu karena dia adalah ibu dari orang yang kau cintai yaitu suamimu, maka sikapilah ibu mertua dengan sikap-sikap yang suami itu menginginkan darimu seperti itu. Maka Sebagaimana telah terjadi pada dirimu kesalahan Ibu kandungmu yang melahirkanmu dan engkaupun memaafkan kesalahannya maka demikianlah engkau bersikap kepada ibu suamimu sesuai dengan kemampuan yang ada.

                Namun, rasa cintanya hati tidaklah dimiliki kecuali Sang Pemilik Hati yaitu Allah subhanahuwa ta'ala. Rasa cinta dihati pada ibu mertua adalah Allah yang atur atau namun minimal dalam kemampuan engkau  menampakkan kebaikan dan membalas gangguan dari ibu mertua dengan kata-kata yang baik dan tetap berinteraksi yang lembut. Sebagaimana Firman Allah ta'ala “Tidaklah sama perbuatan baik dan perbuatan jelek, balaslah perbuatan buruk dengan baik”.

                Oleh karena itu, orang yang antara engkau dengannya terdapat permusuhan maka balaslah dengan sikap yang baik, seakan-akan kawan yang dekat. Ketika kita menampakkan sikap yang baik  kepada orang lain itu adalah satu kiat yang sangat efektif, satu pengambil hati yang sangat bagus kepada orang yang memusuhi kita. Jadikanlah dia seakan-akan kawan dekat yaitu karena menambahkan cinta, bagusnya interaksi bersama kita dan kita tidaklah menginginkan darinya kecuali hal itu.

                Tidak disyaratkan ibu suami itu kepadamu wahai istri menjadi kawan yang dekat dengan hatinya. Akan tapi cukup dengan bagusnya interaksi-interaksimu bersamanya, engkau bisa mendapatkan tindakan-tindakan terlihat jelas dari ibu mertua kepadamu. Semacam ini sikap kepada Ibu, lakukanlah kepada saudara perempuan suami dan saudara laki-laki suami demikian juga sikap semacam ini berikan kepada kawan-kawan dekat suami. Jika engkau mengetahui kunjungan orang yang demikian agungnya dan mulianya orang yang mendapatkan pengakuan dan kemuliaan dari suamimu maka tambahlah dalam memuliakannya dan nampakkan kepada suamimu engkau gembira dengan kedatangannya, supaya semakin besar rasa gembiranya suami dengan kedatangan kawannya ketika singgah di rumahnya seorang tamu.

                 Janganlah engkau rusak untuk suamimu kegembiraannya ketika ada kunjungan kawan yang dia cintai sebagaimana kebiasaan sebagian wanita. Karena telah berjalan kebiasaan wanita-wanita yang kurang akalnya (punya kebiasaan tidak suka dengan teman suami) dengan alasan temen suami ini menyibukkan suami sehingga tidak memperhatikan dirinya dan mengambil waktu suami darinya dan dengan alasan-alasan yang murah yang lainnya juga ini satu tindakan yang tidak layak. Jika suami itu lama sekali menemani temannya sehingga menyebabkan mengurangi hak pergaulan dengan istri, maka engkau istri mintalah hakmu dengan lembut tanpa melecehkan temennya. Ini adalah tindakan yang betul-betul logis dan adalah bagian dari tindakan yang indah.

                Maka betapa indahnya pepatah Arab dan merupakan dikenal orang-orang awam syair yaitu “Dikarenakan satu orang, maka satu kota dimuliakan” Nah ini sebagaimana hal ini ditujukan kepada keluarga suami maka demikian juga semestinya ini diberikan oleh suami kepada keluarga istri merasa gembira dengan kedatangan orang tua istri merasa senang merasa bahagia dan menyambutnya dengan penuh penghormatan dengan penuh penghargaan semestinya demikian. Meskipun kita katakan secara timbangan syariat tidak ada kewajiban untuk berbakti kepada mertua. Namunya yang jelas mertua itu adalah orang yang sangat berjasa dalam hidup kita karena beliaulah yang menjadi sebab kita bisa bersama dengan orang yang kita cintai. Maka patut untuk kita nampakkan sikap-sikap semestinya dan sewajarnya yaitu penghormatan penghargaan dan seterusnya.


Rabu, 02 Februari 2022

Agar Muslimah siap menikah #06

 


        Nasihat yang kelima yang penting di pegangi oleh masing-masing suami dan istri tentang kondisi saat berumah tangga nanti bahwasannya sadarilah tidak ada orang yang lepas dari kesalahan-kesalahan, tutur katanya, kesalahan sikap, tindakannya yang tidak menyenangkan. Maka peganglah erat-erat kaidah berikut ini tenggelamkan segala kesalahan-kesalahan ucapan dan perbuatan dan sikap dalam laut cinta. 

    Allah ta'ala tatkala menciptakan berpasangan, menciptakan laki-laki dan perempuan dan di syariatkan hubungan di antara keduanya dengan menikah dengan cara yang Allah halalkan. Cinta yang tulus Mawaddah adalah cinta yang murni yang tidak bercampur dengan rasa benci sedikit pun. Dan diantara tanda kekuasaan Allah, Allah ciptakan untuk kalian dari jenis kalian sendiri sama-sama manusia berpasangan-pasangan dengan sesama manusia, supaya engkau mendapatkan ketenangan bersamanya. Dan Allah jadikan di antara kalian mawaddah rasa cinta yang tulus dan murni dan sayang. Sayang kasihan iba dengan pasangan. Sesungguhnya dalam hal tersebut terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir.

Allah ta'ala berfirman,

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir". (QS. Ar-Rum : 21)   

        Karakter dan keinginan manusia sangat sulit sama, entah itu berbeda keinginan, sikap. Cara pandang namun saling cinta dan sayang dimana itulah kelak akan jadi solusi untuk menjelaskan dan menselaraskan keinginan yang berbeda. Harapan yang berbeda yaitu biasanya bukanlah satu hal yang sulit bagi orang yang Allah berikan dengan Taufik untuk mendapatkan kebaikan.

        Wahai saudariku Muslimah, engkau akan berkumpul dengan seorang laki-laki yang tidak sama cara didik yang telah engkau peroleh dari orangtuamu dan lelaki ini yang akan jadi calon suamimu. Laki-laki ini, dia punya kebiasaan-kebiasaan, punya karakter yang Allah fitrahkan kepadanya yang ini berbeda denganmu. Dan untuk yang menjadi calon suamimu kelak sudah semestinya menyadari jika dia akan bersama seorang wanita yang berbeda kebiasaannya, berbeda kecenderungan dan tabiatnya. Sebab bukanlah bagian dari konsekuensi hubungan suami-istri yang sehat harus ada keseragaman, keinginan dan kebiasaan. Akan tetapi hubungan suami-istri yang sehat adalah rasa cinta dan perasaan yang tulus.

        Ingatlah ini wahai calon istri ketika engkau nampak ketidaksukaanmu dengan sesuatu dari akhlak suami mu jangan kemudian engkau membenci semuanya yang ada padanya entah itu sikap, cara berpikirnya, cara dia memandang sebuah masalah. Tidak harus seorang istri itu untuk menolak suami secara total kemudian menenggelamkan hal baik yang dia miliki, begitu pula sebaliknya.

     Seandainya kita lepaskan, putuskan hubungan kita dengan semua orang yang tidak cocok perasaannya, kecenderungannya dengan perasaan kita dan kita memilih untuk memutus hubungan dengannya. Maka yang  terjadi tidak ada satupun manusia yang bisa  yang nyaman untuk kita, sampai-sampai orangtua kurang nyaman, saudara kandung laki-laki dan perempuan. Sosok yang sempurna dalam pandangan kita, sikap, perkataannya nyaman adalah satu hal yang sangat langka bila kita coba untuk temui, satu hal yang sangat sulit untuk dijumpai. Sehingga yang tepat adalah kita yang juga semestinya  banyak adaptasi dan menyesuaikan diri.

        Renungkan interaksimu dengan saudara laki-lakimu di rumah; Apakah engkau lihat bahwasanya semua saudara laki-lakimu itu dalam perilaku dan karakter sama? jawabnya tidak. Sebab boleh jadi punya kakak laki-laki dermawan namun jeleknya sifatnya orangnya kotor kurang suka rapi-rapi; kakak laki-laki yang kedua seorang pemberani gagah namun jeleknya begini dan begitu; kakak laki-laki yang ketiga orangnya lembut penyayang akan tapi tetep juga ada jeleknya namun jeleknya misalnya kalau tidur ngorok. Sehingga bagaimana seorang muslimah bersikap dengan kakak kakak laki-lakinya, dik laki-laki itu. Maka tutup mata dari kejelekan-kejelekan itu jangan dipandang dengan cara dan cara berpikir subjektif saja, namun upayakan untuk menterapinya dan panjangkan dua matamu artinya yang diperhatikan sisi kelebihannya, keindahan dan berterima kasihlah kepada mereka dan beri apresiasi karena sisi positif kakak-kakak tadi dan berinteraksilah.

        Nanti jika engkau wahai saudariku, engkau menikah suamimu juga seperti itu maka nampak bagimu perilaku yang engkau tidak suka dan perhatikan perilaku yang tidak disukai itu tidak sampai derajat kedua ini yaitu kejahatan, “tidak sampai hal tidak melanggar syariat yang bentuknya haram dan tidak melakukan kejahatan yang berbahaya”. Namun bukan berarti tidak memperbaiki dan tidak di beri nasihat.

        Kemudian lebih berkenaan dengan kurangnya menyenangkan sikapnya yang bikin jengkel tenggelamkan ketergelinciran tersebut dalam rasa dengan lautan rasa cinta kepadanya dan inilah cara mempraktekkan Hadis yang Shahih dari Nabi Shallallahu alahi wassalam, “tidak boleh seorang suami membenci istrinya jika ada satu sikap istrinya yang tidak disukai maka ada yang lain yang dia sukai”. (Dikeluarkan oleh Muslim Dari Abu Hurairah). Arti hadis ini seorang yang beriman seorang laki-laki demikian juga wanita janganlah yang satu membenci kawannya yang dalam artian membenci istrinya “karena tidaklah dia benci satu sikap dari kawannya kecuali dia akan sukai padanya akhlak yang lain”.

        Demikian misalnya apa yang terjadi dari suamimu berupa kesalahan langsung kepadamu berupa tutur kata dan sikap maka janganlah engkau jadikan hal itu sebagai pengumuman perang, janganlah hal manjadi tertabuhnya genderang perang, jangan kau pasang untuknya permusuhan karena tindakan tersebut.

        Maka wahai saudariku, calon istri dan para istri maka sebelum engkau segera menyanggah sebelum kau bersegera memberikan respon kepadanya baik dengan kata-kata diam ataupun yang lainnya tanyakan kepada dirimu “Apa yang perlu dikatakan, jadi ketika sebel jengkel dengan suami demikian juga suami dengan istrinya maka tolong merenung sejenak setelah itu dipakai untuk berdialog, bukankah lelaki inilah yang aku cintai dan kucintai dengan hatiku sebelumnya? dan bukankah lelaki inilah yang aku bahagia bersamanya berhari-hari dengannya?.

         Ingatlah wahai diriku jangka waktu yang lama yang kau habiskan bersamanya dalam bahagia dalam cinta. lantas timbanglah dengan timbangan yang adil ‘’apakah logis jika timbangan kebaikannya itu jadi ringan gara-gara sebuah kesalahan? apakah akan hilang indahnya pergaulan suami-istri yang telah lalu sebab satu kata yang keluar karena ketidaksengajaan yang berlebihan atau akhlak yang buruk?.

        Maka tutup mata dari kesalahan dan diiringi usaha untuk melakukan perbaikan Itulah ciri manusia berakal. Sebagaimana kata seorang penyair “orang yang tolol tak bisa jadi jadi pemimpin di kaumnya, namun yang bisa menjadi pemimpin satu komunitas adalah orang yang punya karakter sering tutup mata dan pura-pura tidak tahu kesalahan dan kekurangan bawahan” bermakna artinya tutup mata dari ketergelinciran, kendalikan diri ketika emosi, jangan berbicara dengan yang tidak layak dan sesali dan engkau akan menyesali hal tersebut setelahnya.

             Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda

Bukanlah orang yang gagah perkasa orang yang selalu menang gulat namun orang yang gagah perkasa adalah yang mampu mengontrol dirinya ketika emosi”. (Mutafaqun alahi Riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah)

             Saat emosi, kesal maka janganlah lidahmu itu meluncur dengan kata-kata yang engkau akan dibalas padamu dan akan tercatat untuk pertanggungjawabkan karena kezaliman ada tumbuhan kegelapan pada hari kiamat. Seakan-akan kau katakan setelah jangka waktu aku tidak cinta dan sayang padamu sedikitpun (Aku tidak pernah tidur sedikit ,Hidupku tidak pernah nyaman bersamamu sekalipun). Sebab kata-kata ini negatif general terkadang akan memutus kehidupan suami-istri, memutus Jalan Kembali ke daratan yang aman. Oleh karena itu doa yang wajib kita resapi yaitu diantara doa Nabi Shallallahu alahi wass salam ‘’Ya Allah aku minta kepadamu supaya bisa berkata objektif saat senang dan saat marah’’

        Dan karenanya sebagian orang ketika sangat emosi, kesal sangat  tidak objektif sehingga bohong memuji-muji secara dusta dan ketika marah nanti jelek-jelekkan setengah mati. Maka jangan pernah zalimi suamimu dengan sesuatu tidak nyata, dengan ucapan dan tindakan yang penyesalan itu akan membakarnya di masa depan yang tidak ada pada dirinya.

        Hadis Nabi Shallallahu alaihi sallam telah diriwayatkan oleh Tirmidzi ‘’Cintailah orang yang kau cintai biasa-biasa saja karena boleh jadi engkau akan membencinya dan bencilah orang yang kau benci namun biasa saja karena boleh jadi dia akan jadi kau yang kau cintai pada suatu hari. Nanti kalau benci maka tidak akan overdosis, ketika cintanya itu biasa-biasa; mencegah cintanya luar biasa kemudian kecewa dan benci.

        Nanti kalau sudah bencinya keterlaluan malah ternyata jatuh hati nanti, jadi malu untuk menyatakan dan mengungkapkan kalau cinta. Maka jika engkau wahai seorang Istri engkau marah atau benci di satu saat maka biasa saja jangan nampakkan kepadanya kepada suamimu semua tanda-tanda marah dan semua kata-kata marah karena engkau tidak tahu seandainya jernih segala perkara antara mendengarnya setelah beberapa waktu lamanya dan semua bakal kembali kepada jalannya semula sebagaimana dikatakan. Bagaimanakah keadaan bersamanya pada waktu itu padahal kau telah berkata dan telah bertindak dengan kata-kata dan tindakan itu maka jalan siksa dirimu dengan hal-hal yang menyebabkan penyesalan.

             

Senin, 31 Januari 2022

Agar Muslimah siap Menikah #05





"Supaya seorang muslimah itu siap untuk menikah sadari dan pegang nasihat ini, jadikan ini sebagai prinsip hidup bahwasanya "kebersihan dan beres-beres, rapi-rapi itu adalah indikator luhurnya akhlakmu wahai Muslimah".

 

lanjutan...

3. Pemalas

    Layaknya seperti keledai yang digembalakan, matahari sudah tersebar namun belum juga terdengar suara darinya karena masih lelap tidur dan rumahnya tidak pernah disapu. Sebab terlalu malasnya wanita jenis ini dan terlalu manja maka matahari sudah meninggi dan dia masih tidur, tidak ada suaranya beraktivitas di dalam rumah dan rumahnya pun tidak pernah disapu dan tidak pernah dirapikan. Kata Syekh Al Baddar Al Utabi betapa banyaknya wanita jenis ini. Artinya di dalam kalimat ini terdapat isyarat dengan melihat kebalikannya karakter atau sifat istri yang sempurna, yang bagus ialah istri yang semangat di awal pagi dan memperhatikan rumah dengan bersih-bersih, rapi-rapi, beres-beres dan mewangikan rumah.

    Maka makanannya itu melalui semalaman, wadahnya itu kotor, adonan rotinya itu masam seperti cuka dan airnya air yang hangat. Diantara bentuk malasnya dan manja jelek sang istri ini jika menyuguhkan makanan untuk suami atau tamu maka yang dia suguhkan adalah makanan yang sudah dipanaskan karena sudah dimasak kemarin, bukan makanan yang baru saja di masak. Piring dan gelasnya nampak tidak bersih karena di gelas tersebut ada sisa-sisa makanan atau minuman, minyak/ lemak sebelumnya. Dia adalah seorang wanita yang gagal dalam memasak sampai level adonan rotinya itu masam, kenapa? karena terlalu lamanya jangka waktu ditutupi dan sebab karena malasnya istri. Dan air yang disuguhkan itu cuma hangat-hangat kuku karena dia tidak pandai memanaskan air.

     Di atas barang-barangnya terdapat tanaman dan barang-barangnya yang kecil-kecilnya tidak boleh dipinjam, pelayannya dipukuli, tetangganya diperangi. Ini satu diantara indikator-indikator malasnya istri ini. Barang-barang karena lama ditumpuk-tumpuk atau di tumpuk dengan yang lain tanpa pernah ditata ulang, diatur lebih rapi maka sampai-sampai tumbuhan, lumut, benih dari angin itu tumbuh pada barang-barang itu. Tindakan semacam ini adalah hal yang sepatunya seorang istri menjauhinya sehingga seorang istri itu hendaknya secara periodik melewati semua ujung-ujung rumahnya untuk menatanya, membersihkannya, dan supaya wangi. Dan indikator paling mudah penghuni rumah itu rajin bersih-bersih ataukah tidak bisa dilihat "adakah sarang laba-laba di rumah?" sebab penatan rumah itu tanggung jawab istri. Namun untuk bersih-bersih tidak harus istri yang melakukan, suami bisa melakukan namun hendaknya istri yang mengkoordinasi dan punya program yang jelas manejemennya "kapan yuk ini ngepel-ngepel, bersih-bersih".

    Makna pelayannya dipukuli, tetangganya diperangi artinya dia bukanlah wanita yang bisa bermasyarakat dengan tetangga, kerjasama, menolong dan membantu, memuliakan dan berbuat baik kepada tetangga. Untuk penjelasan barang-barang milikinya, misalnya ada tetangga mau pinjem ember enggak boleh, mau pinjam sapu juga nggak bisa, pelit dan enggan mau menolong tetangganya. Dan itu semua disebabkan kegagalan dia dalam kehidupan rumah tangga karena demikian manja yang jelek sehingga menyebabkan hal yang negatif terjadi pada tetangga dan tidak disukai tetangga.

4. Wanita yang terpuji.

    Wanita atau istri yang penuh dengan cinta, empati, penuh keberkahan, subur dan bisa dipercaya ketika suami pergi, disukai oleh tetangganya, terpuji tindakannya, sikapnya ketika dia sepi sendiri atau ketika bersama banyak orang. Seorang wanita yang mulia dalam bersikap kepada suami, banyak berbuat baik, lirih suaranya, suka bersih-bersih rumah dan karena baiknya maka pembantunya gemuk (kedermawanan), anaknya tampil cakep, kebaikannya terus-menerus mengalir dan suaminya nyaman. Wanita yang bisa di di dandani dan bisa akrabi, ramah dengan kehormatan dan kebaikan menjadi sifatnya.

    Kemudian anaknya itu terlihat bagus didandani dan bersihnya anak itu tanda bersihnya Ibu. Artinya wanita ini selalu perhatian dengan kebersihan badan, pakaian dan yang lebih penting dari itu adalah kebersihan batin dengan mendidik anak agar memiliki adab dan akhlak yang unggul dan perkataan yang bersih yang penuh dengan adab. Maka di menasihati kepada anaknya dia mengatakan "Semoga Allah jadikan mu wahai  anakku diantaranya mengikuti hidayah dan mengikuti ketakwaan,menjauhi marah dan menyukai ridha-nya" 

    Supaya seorang muslimah itu siap untuk menikah sadari dan pegang nasihat ini, Jadikan ini sebagai prinsip hidup bahwasanya pertama "kebersihan dan beres-beres, rapi-rapi itu adalah indikator luhurnya akhlakmu wahai Muslimah". Maka hendaknya seorang wanita itu terkenal suka rapi-rapi, jangan malas untuk beres-beres juga terkenal sebagai seorang yang suka memperhatikan kebersihan lahir dan batin. Kebersihan batin hati dengan adab dan akhlak itu lebih penting dan lebih mulia maka jadikan hatimu hati yang bersih dari segala macam karakter yang jelek seperti hasad, iri dengki dan dendam juga keinginan untuk menipu.

    Kaedah burung bahwasanya burung itu bertengger, berkumpul dengan yang serupa. Seekor merpati tidak mungkin bertengger bersama elang dan sebaliknya pun demikian. Jadi, jiwa itu saling bercocokan sebagaimana antara badan, pikiran, warna kulit dan jenis. Shahih dari Nabi Shallallahu alahi wa salam dikatakan bahwa "Arwah itu seperti tentara yang sudah tertata rapi dimana saling kenal jiwanya akan menyatu, jika tidak saling kenal maka berbeda". 

    Maka apa yang engkau sembunyikan dari suamimu itulah yang disembunyikan oleh suamimu darimu, jika itu baik maka baik; jika itu jelek maka jelek. Renungkan hal ini dalam dirimu bersama suamimu. Jika seandainya suami masuk ke rumah dengan tatapan yang aneh, maka keanehan dalam tatapanmu itu lebih banyak. Sebagaimana apa yang kau rasakan dari suami, itulah yang direspon oleh perasaanmu, padahal suami tidaklah mengeluarkan satupun kata dari mulutnya. Namun, perasaanmu berubah dengan tatapanmu kepadanya dan membaca tatapannya dan tindakan-tindakannya. Oleh sebab itu, jadilah dirimu seorang wanita yang baik hatinya menyukai kebaikan untuk suami menginginkan kebaikan untuk suami karena yang semacam itu akan ada dari suami untukmu.

    Kedua, menjaga kebersihan badan dan pakaian. Maka dan upayakan supaya suami tidak melihat, dan mencium darimu kecuali sesuatu yang indah. Karena jiwa seseorang itu tidak suka melihat sesuatu yang tidak dia sukai, seperti boleh jadi suami tidak suka satu jenis makanan dan dia telah menyicipi nya dan rasanya pahit atau dia cium darinya bau yang tidak sedap meskipun sekali. 

    Oleh karena itu syariat membantumu untuk perhatian dengan hal ini sehingga nabi melarang seorang suami untuk datang  di malam hari jika pulang dari Safar. Dan nabi membenarkan hal tersebut memberikan alasan pembenar hal itu agar wanita yang rambutnya acak-acakan memungkinkan untuk bersisir dan wanita yang lama ditinggal pergi oleh suami sehingga tidak peduli dengan fisiknya bisa mengerik bulu disekitar kemaluan. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu alahi wassalam, "jika engkau wahai suami pulang dari Safar malam-malam maka jangan langsung pulang, janganlah engkau langsung pulang menemui keluargamu atau istrimu sampai wanita yang lama ditinggal pergi itu memilih kesempatan membersihkan bulu kemaluan dan wanita yang rambutnya acak-acakan berkesempatan untuk menyisir rambut, kemudian Rasulullah Shallallahu alahi wa ssalam mengatakan setelah istri itu bersisir rapi-rapi bulu kemaluannya sudah bersih maka setubuhi istrimu, setubuhi istrimu".

    maksudnya...

  •  Rambut acak-acakan artinya yang ditinggal pergi oleh suaminya dalam jangka waktu yang lama, maka wanita yang rambutnya acak-acakan bersisir. 
  • Yang kedua, melakukan dengan menghilangkan bulu-bulu yang kotor diantaranya adalah bulu-bulu terutama bulu kemaluan dan yang lainnya adalah bulu ketiak semua itu dalam rangka menjaga agar suaminya hanya melihat dari istrinya bentuk yang paling sempurna dan paling indah. 

    noted

    Bukan hanya nyambut suami pulang dari safar, namun hendaklah engkau wahai muslimah jadi seperti itu dalam setiap waktu dan kesempatan. Jika sampai kepadamu berita kedatangan suami siap-siap untuknya dengan siap-siap yang paling sempurna. Sehingga engkau tampil dengan sesuatu yang akan menyenangkan orang yang melihatnya, tatkala suami melihatmu terutama sudah lama pergi karena Safar. Adab dan pergaulan yang baik darimu itu sempurna jika sambutanmu kepada suamimu lebih dahsyat daripada sambutan orang-orang dermawan kepada tamunya. Maka antusiaslah untuk menyambut suami di depan pintu. Saat awal masuknya dia ke rumah sambut di kedatangannya dengan ucapan selamat datang dan pelukan, ciuman rasa cinta dan hormat, rasa rindu dan hendaknya suami membalas (pelukan, ciuman rindu, hangat) jangan cuma diam saja. Ini akan mendorong suamimu itu untuk tergantung pada dirimu, lebih mendorong suami untuk betul-betul jatuh cinta dan tergila-gila dengan dirimu karena demikian bagusnya adab seorang Istri ketika nyambut suami pulang. Dia akan semakin sadar dan mengetahui hak-hakmu.

    Seorang Istri dan tambah sempurna rasamu itu jika engkau bawakan apa yang ada ditangannya boleh jadi kertas, tas kerjanya atau ketika dia pulang sambil membawa barang-barangnya ke rumah. Dan demikianlah bagusnya pergaulanmu jika engkau bantu suamimu untuk melepas pakaiannya dia misalnya pakai jaket; lepas jaketnya kemudian menggantungnya dan menyiapkan pakaian rumah untuknya yang telah disiapkan, untuk mandinya karena dia pulang safar. Perhatian yang tulus terhadap suami dibuktikan dengan menyiapkan hal-hal seperti jamuan makanan dan minuman disiapkan dan dirapikan, kamar tidurnya, kamar mandinya, ditambah istri dalam keadaan pemandangan Indah, rapi, bersih, wangi dan cantik. 

    Demikian juga kebersihan disini mencakup kebersihan rumah yang tidak layak wanita berakal untuk meremehkannya maka tidak janganlah terlalu bagimu satu hari kecuali Anda Wahai istri di rumah itu muter-muter, bersih-bersih, beres-beres dan menata ulang. Maka satu hal yang dibenci oleh suami ketika tidak peduli dengan barang-barang berserakan, tidak karuan terutama di tempat menyambut tamu terutama di ruang tamu. Karena tamu itu duta berbagai macam kota dia adalah yang mengutip berbagai macam berita “owh rumah sana, saya pernah bertamu ke rumahnya masya Allah wangi, bagus" itu maka tidaklah selayaknya wanita yang berakal diceritakan tentang rumahnya selain yang indah-indah. Jika engkau mendengar kedatangan tamu siapkan tempat duduk laki-laki rapi-rapi, dan wangi, di cek sisi sisi ruang tamu, bagian-bagian tersembunyi boleh jadi ada padanya yang tidak diperhatikan, ada hal yang tidak diberesin atau ada padanya kelakuan anak-anak yang mata itu malu untuk memandanginya.

     Maka dua kata kunci yakni istri yang baik, disayang oleh suami dan dicintai oleh anggota keluarga punya dua hal ini;

  • istri yang perhatian dengan kebersihan kebersihan dirinya. Jangan malas dalam hal ini jangan malas dengan kebersihan. Misalnya, sehari tidak mandi atau dengan alasan jamak mandi harusnya mandi pagi dan sore cuma sekali atau malah dijamak lagi dua hari sekali, semestinya seorang istri yang baik itu rajin mandi dimana habis masak-masak mandi, habis beres-beres berkeringat mandi yang mana mandi tidak harus lama-lama yang penting mandi menghilangkan bau keringat dari badan. tidak pun dipeluk suami baunya keringan. 
  • kebersihan rumah dengan pekerjaan rumah rapi-rapi, beres-beres, dan penataan rumah. Dan ingat bahwasanya indikator dari penghuni rumah bersih atau  tidak ada ada sarang laba-laba tidak di sudut-sudut lemari, di jendela kalau tidak ada bisa di bilang dia istri yang rajin.
disampaikan oleh Ustadz Dr. Aris Munandar, SS, MPI

Minggu, 30 Januari 2022

Agar Muslimah siap menikah #04

 


Empat jenis wanita :

1. Istri yang tidak mengakui kebaikan suami baik di hadapan suami atau dihadapan banyak orang.

    Suaminya karena beratnya apa yang dia jumpai dari istrinya berupa jeleknya akhlak istrinya maka wajahnya itu wajah yang terluka, wajah orang yang sedih. Sedangkan kehormatan dan nama baiknya menjadi sasaran empuk di depan banyak orang. Istri ini mencela dan menjelek-jelekkan suaminya maka banyak orang pun mencelanya karena istrinya yang menjelek-jelekkan di nilai bahwasanya istri adalah orang yang paling tahu sejatinya seorang laki-laki ketika di rumah. Akhirnya banyak orang mencelanya kemudian meremehkan suaminya.

   Sebagian kesempatan aku sampaikan bahwasanya akhlak-akhlak seorang istri itu nampak pada wajah suaminya terutama ketika kedatangan tamu-tamu suaminya. Wajah suami itu menunjukkan bagaimana keadaan istrinya. Ketika suami itu merasa senang dengan kedatangan-kedatangan para tamu, kawan-kawannya. Maka berbagai macam bentuk pemuliaan itu berturut-turut diberikan kepada para tamu di meja berupa makan yang terbaik bisa diberikan dan minuman yang terbaik yang bisa di suguhkan, terdapat kata-kata penyambutan dan wajah yang gembira. Maka artinya istrinya yang ada di belakang itu lebih gembira darinya dan lebih gembira dibandingkan kegembiraan tamu-tamu suami

    Namun jika ketika suami itu kedatangan teman-temannya terlihat wajahnya sedih, minumannya cuma bisa minuman dingin, istrinya tidak mau membuat minuman panas dan yang lainnya, gelasnya sebagian kotor dan pemuliaannya pada tamu itu telat. Maka bisa disimpulkan menurut penulis bahwasanya di belakang lelaki ini ada seorang perempuan, seorang istri yang lebih berat daripada gunung. Artinya berat jiwa dan tangannya sehingga dia tidak mau bersih-bersih gelasnya kotor atau tidak siap makanan minuman untuk tamu atau temannya suami. Maka suami harus berbicara ini dan itu baru disiapkan sehingga datangnya telat, hal ini menunjukkan ada yang tak beres di rumah tangga tersebut. Jadi, beres dan tidaknya keadaan rumah tangga itu bisa kelihatan bagaimana keadaan dari penyambutan suami ketika datang tamu-tamu yang mereka adalah temen-temen baik dan teman-teman akrab suami.

    Apapun yang diberikan oleh suami kepadanya, maka istri itu tidak akan membalasnya dan tidak mengetahui dan mengakui kebaikan suami. Hijab tabir penutup suami itu robek, penutupnya itu terbuka. Kebaikan-kebaikan suami itu dikubur dan dipendam dan kejelekan-kejelekan suami yang Allah tutupi itu  dirobek, di buka lebar-lebar oleh istrinya

    Suami dari wanita jenis pertama ini ketika diwaktu pagi dia dalam keadaan sedih dan jika di waktu sore dia dalam keadaan mencela. Maknannya di pagi hari suami ini bangun dan dia dalam keadaan sedih, hatinya ambyar, galau karena jeleknya malam yang dilewati oleh suami bersama istrinya yang sombongDan diwaktu suami menjumpai petang atau malam dalam keadaan mencela kesusahan yang di siang hari yang dia dapat bersama istrinya.

    Kemudian selanjutnya adalah minumannya pahit, makanannya keras, anaknya terlantar, rumah tidak terurus. Artinya istrinya ini karena sombongnya tidaklah memberikan perhatian dengan anak-anaknya, tidak pula barang-barang yang ada di rumah. Sehingga anaknya tidak terurus dan barang -barang yang ada di rumah itu hancur karena kecerobohan dan tidak diperhatikan. Pakaian suami itu kotor, kepala rambutnya acak-acakan dan jika tertawa lemah, jika berbicara maka seakan-akan tidak suka.

    Malamnya adalah siang, siangnya adalah malam dimana malamnya adalah celaka artinya karena demikian keras dan susah derita kehidupan jiwa si laki-laki ini dan kesusahan kehidupannya sampai-sampai ketika tertawa tidak tertawa lepas, tidak tertawa yang sempurna. Namun nampak jejak penyesalan pada wajahnya dengan lemah dan kecewa sampai-sampai berbicara pun berat baginya karena luar biasanya derita dan kelemahan yang menimpa dan terjadi padanya. Maka kami berlindung kepada Allah subhanahuwata'ala dari keadaan ini.


2. Suka menyelisihi suami dan tidak taat dengan suami.

    Kemudian jenis yang kedua adalah wanita suka nada, intonasi yang tinggi, yang teriak-teriak. Jika berbicara kotor lisannya meskipun sesuai dengan kenyataan. Misalnya orang bodoh di bodoh bodohin dan bilang "dasar kamu bodoh". Di antara akhlak mulia realita yang jelek itu tidak perlu diomongkan. Misalnya, kalau orang itu orang yang diajak bicara bodoh, jelek, pesek, kribo  tak perlu bicarakan dia bodoh, jelek, pesek, kribo dll. 

    Selanjutnya wanita ini tidak teguh dengan satu pendapat, pendapat orang itu bisa membeloknya dan mengubah pendiriannya. Maka suaminya tidak lah mengenali karakternya karena dia tidaklah lurus dalam satu model. Jika suaminya mengatakan "tidak" istrinya bilang "iya", Jika suami bilang "Iya" istrinya bilanglah "tidak" artinya karena sombongnya dan keras kepalanya maka dia suka menyelisihi suami dan tidak taat dengan suami.

    Memberikan berbagai macam kehinaan bagi suami dan meremehkan apa yang ada di hadapan suami, artinya istri ini menjadi sebab terjadinya semua menghinakan suami dan meremehkan semua kebaikan yang diberikan oleh suami kepada istri. Sampai-sampai akhirnya suami itu marah-marah dengan rumahnya sendiri, bosan dengan anak-anaknya. 

    Kehidupannya jelek, hina. Sehingga teman-teman akrabnya, tetangga kasihan melihatnya karena sedemikian keterlaluannya istrinya sampai-sampai tetangganya dan saudara-saudaranya menganggapnya sekarang jadi kurus kering sekarang tidak terurus. Artinya istri menyusakan kehidupan suaminya sampai-sampai suaminya sendiri bosan sama anak-anaknya dan benci atau marah dengan kehidupannya, tidak lagi perhatian dengan dirinya. 

    Wanita jenis ini artinya adalah wanita yang manja yang manjanya berlebihan sampai level meremehkan kewajiban tanggungjawab yang harus dikerjakan dan harus dilakukan. Istri memiliki kemanja-manjaan tidak pada tempatnya. Dia sudah puas dengan cinta suaminya, dengan penghasilan suaminya atau usaha suaminya puncak dari tujuannya adalah dicintai oleh suaminya tanpa dia mau memberikan bukti-bukti pergaulan suami-istri yang benar dan service atau pelayanan yang bagus kepada suami.

disampaikan oleh Ustadz Dr. Aris Munandar, SS, MPI


 N 

 E  

 X  

 T    ....

baca lagi

Agar Muslimah siap menikah #01

yang lainnya