Nasihat yang kelima yang penting di pegangi oleh masing-masing suami dan istri tentang kondisi saat berumah tangga nanti bahwasannya
sadarilah tidak ada orang yang lepas dari kesalahan-kesalahan, tutur katanya,
kesalahan sikap, tindakannya yang tidak menyenangkan. Maka peganglah erat-erat
kaidah berikut ini tenggelamkan segala kesalahan-kesalahan ucapan dan perbuatan
dan sikap dalam laut cinta.
Allah
ta'ala tatkala menciptakan berpasangan, menciptakan laki-laki dan perempuan dan
di syariatkan hubungan di antara keduanya dengan menikah dengan cara yang Allah
halalkan. Cinta yang tulus Mawaddah adalah cinta yang murni yang tidak
bercampur dengan rasa benci sedikit pun. Dan diantara tanda kekuasaan Allah,
Allah ciptakan untuk kalian dari jenis kalian sendiri sama-sama manusia berpasangan-pasangan dengan sesama manusia, supaya engkau mendapatkan ketenangan
bersamanya. Dan Allah jadikan di antara kalian mawaddah rasa
cinta yang tulus dan murni dan sayang. Sayang kasihan iba dengan pasangan. Sesungguhnya dalam hal tersebut terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
berpikir.
Allah ta'ala berfirman,
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia
menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung
dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan
sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
(kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir". (QS. Ar-Rum : 21)
Karakter dan keinginan manusia sangat sulit
sama, entah itu berbeda keinginan, sikap. Cara pandang namun saling cinta dan
sayang dimana itulah kelak akan jadi solusi untuk menjelaskan dan menselaraskan
keinginan yang berbeda. Harapan yang berbeda yaitu biasanya bukanlah satu hal
yang sulit bagi orang yang Allah berikan dengan Taufik untuk mendapatkan
kebaikan.
Wahai saudariku Muslimah, engkau akan berkumpul dengan seorang laki-laki yang tidak sama cara didik yang telah engkau peroleh dari orangtuamu dan lelaki ini yang akan jadi calon suamimu. Laki-laki ini, dia punya kebiasaan-kebiasaan, punya karakter yang Allah fitrahkan kepadanya yang ini berbeda denganmu. Dan untuk yang menjadi calon suamimu kelak sudah semestinya menyadari jika dia akan bersama seorang wanita yang berbeda kebiasaannya, berbeda kecenderungan dan tabiatnya. Sebab bukanlah bagian dari konsekuensi hubungan suami-istri yang sehat harus ada keseragaman, keinginan dan kebiasaan. Akan tetapi hubungan suami-istri yang sehat adalah rasa cinta dan perasaan yang tulus.
Ingatlah ini wahai calon istri ketika engkau nampak ketidaksukaanmu dengan sesuatu dari akhlak suami mu jangan kemudian engkau membenci semuanya yang ada padanya entah itu sikap, cara berpikirnya, cara dia memandang sebuah masalah. Tidak harus seorang istri itu untuk menolak suami secara total kemudian menenggelamkan hal baik yang dia miliki, begitu pula sebaliknya.
Seandainya kita lepaskan, putuskan
hubungan kita dengan semua orang yang tidak cocok perasaannya, kecenderungannya
dengan perasaan kita dan kita memilih untuk memutus hubungan dengannya. Maka
yang terjadi tidak ada satupun manusia
yang bisa yang nyaman untuk kita, sampai-sampai
orangtua kurang nyaman, saudara kandung laki-laki dan perempuan. Sosok yang
sempurna dalam pandangan kita, sikap, perkataannya nyaman adalah satu hal yang
sangat langka bila kita coba untuk temui, satu hal yang sangat sulit untuk
dijumpai. Sehingga yang tepat adalah kita yang juga semestinya banyak adaptasi dan menyesuaikan diri.
Renungkan interaksimu dengan saudara laki-lakimu di rumah; Apakah engkau lihat bahwasanya semua saudara laki-lakimu itu dalam perilaku dan karakter sama? jawabnya tidak. Sebab boleh jadi punya kakak laki-laki dermawan namun jeleknya sifatnya orangnya kotor kurang suka rapi-rapi; kakak laki-laki yang kedua seorang pemberani gagah namun jeleknya begini dan begitu; kakak laki-laki yang ketiga orangnya lembut penyayang akan tapi tetep juga ada jeleknya namun jeleknya misalnya kalau tidur ngorok. Sehingga bagaimana seorang muslimah bersikap dengan kakak kakak laki-lakinya, dik laki-laki itu. Maka tutup mata dari kejelekan-kejelekan itu jangan dipandang dengan cara dan cara berpikir subjektif saja, namun upayakan untuk menterapinya dan panjangkan dua matamu artinya yang diperhatikan sisi kelebihannya, keindahan dan berterima kasihlah kepada mereka dan beri apresiasi karena sisi positif kakak-kakak tadi dan berinteraksilah.
Nanti jika engkau wahai saudariku, engkau menikah suamimu juga seperti itu maka nampak bagimu perilaku yang engkau tidak suka dan perhatikan perilaku yang tidak disukai itu tidak sampai derajat kedua ini yaitu kejahatan, “tidak sampai hal tidak melanggar syariat yang bentuknya haram dan tidak melakukan kejahatan yang berbahaya”. Namun bukan berarti tidak memperbaiki dan tidak di beri nasihat.
Kemudian lebih berkenaan dengan kurangnya menyenangkan
sikapnya yang bikin jengkel tenggelamkan ketergelinciran tersebut dalam rasa
dengan lautan rasa cinta kepadanya dan inilah cara mempraktekkan Hadis yang
Shahih dari Nabi Shallallahu alahi wassalam, “tidak boleh seorang suami
membenci istrinya jika ada satu sikap istrinya yang tidak disukai maka ada yang
lain yang dia sukai”. (Dikeluarkan oleh Muslim Dari Abu Hurairah). Arti hadis
ini seorang yang beriman seorang laki-laki demikian juga wanita janganlah yang
satu membenci kawannya yang dalam artian membenci istrinya “karena tidaklah dia
benci satu sikap dari kawannya kecuali dia akan sukai padanya akhlak yang lain”.
Demikian misalnya apa yang terjadi
dari suamimu berupa kesalahan langsung kepadamu berupa tutur kata dan sikap
maka janganlah engkau jadikan hal itu sebagai pengumuman perang, janganlah hal manjadi
tertabuhnya genderang perang, jangan kau pasang untuknya permusuhan karena tindakan
tersebut.
Maka wahai saudariku, calon istri dan para istri maka sebelum engkau segera menyanggah sebelum kau bersegera memberikan respon kepadanya baik dengan kata-kata diam ataupun yang lainnya tanyakan kepada dirimu “Apa yang perlu dikatakan, jadi ketika sebel jengkel dengan suami demikian juga suami dengan istrinya maka tolong merenung sejenak setelah itu dipakai untuk berdialog, bukankah lelaki inilah yang aku cintai dan kucintai dengan hatiku sebelumnya? dan bukankah lelaki inilah yang aku bahagia bersamanya berhari-hari dengannya?.
Ingatlah wahai diriku jangka waktu yang lama yang kau habiskan bersamanya dalam bahagia dalam cinta. lantas timbanglah dengan timbangan yang adil ‘’apakah logis jika timbangan kebaikannya itu jadi ringan gara-gara sebuah kesalahan? apakah akan hilang indahnya pergaulan suami-istri yang telah lalu sebab satu kata yang keluar karena ketidaksengajaan yang berlebihan atau akhlak yang buruk?.
Maka tutup mata dari kesalahan dan diiringi
usaha untuk melakukan perbaikan Itulah ciri manusia berakal. Sebagaimana kata
seorang penyair “orang yang tolol tak bisa jadi jadi pemimpin di kaumnya, namun
yang bisa menjadi pemimpin satu komunitas adalah orang yang punya karakter
sering tutup mata dan pura-pura tidak tahu kesalahan dan kekurangan bawahan”
bermakna artinya tutup mata dari ketergelinciran, kendalikan diri ketika emosi,
jangan berbicara dengan yang tidak layak dan sesali dan engkau akan menyesali
hal tersebut setelahnya.
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda
“Bukanlah orang yang gagah perkasa orang yang selalu menang gulat namun orang
yang gagah perkasa adalah yang mampu mengontrol dirinya ketika emosi”. (Mutafaqun
alahi Riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah)
Saat emosi, kesal maka janganlah lidahmu itu
meluncur dengan kata-kata yang engkau akan dibalas padamu dan akan tercatat
untuk pertanggungjawabkan karena kezaliman ada tumbuhan kegelapan pada hari
kiamat. Seakan-akan kau katakan setelah jangka waktu aku tidak cinta dan sayang
padamu sedikitpun (Aku tidak pernah tidur sedikit ,Hidupku tidak pernah nyaman
bersamamu sekalipun). Sebab kata-kata ini negatif general terkadang akan
memutus kehidupan suami-istri, memutus Jalan Kembali ke daratan yang aman. Oleh
karena itu doa yang wajib kita resapi yaitu diantara doa Nabi Shallallahu alahi
wass salam ‘’Ya Allah aku minta kepadamu supaya bisa berkata objektif saat
senang dan saat marah’’
Dan karenanya sebagian orang ketika sangat emosi, kesal sangat tidak objektif sehingga bohong memuji-muji secara dusta dan ketika marah
nanti jelek-jelekkan setengah mati. Maka jangan pernah zalimi suamimu dengan
sesuatu tidak nyata, dengan ucapan dan tindakan yang penyesalan itu akan
membakarnya di masa depan yang tidak ada pada dirinya.
Hadis Nabi Shallallahu alaihi
sallam telah diriwayatkan oleh Tirmidzi ‘’Cintailah orang yang kau cintai
biasa-biasa saja karena boleh jadi engkau akan membencinya dan bencilah orang
yang kau benci namun biasa saja karena boleh jadi dia akan jadi kau yang kau cintai
pada suatu hari.” Nanti kalau benci maka
tidak akan overdosis, ketika cintanya itu biasa-biasa; mencegah cintanya luar
biasa kemudian kecewa dan benci.
Nanti kalau sudah bencinya
keterlaluan malah ternyata jatuh hati nanti, jadi malu untuk menyatakan dan
mengungkapkan kalau cinta. Maka jika engkau wahai seorang Istri engkau marah
atau benci di satu saat maka biasa saja jangan nampakkan kepadanya kepada
suamimu semua tanda-tanda marah dan semua kata-kata marah karena engkau tidak
tahu seandainya jernih segala perkara antara mendengarnya setelah beberapa
waktu lamanya dan semua bakal kembali kepada jalannya semula sebagaimana
dikatakan. Bagaimanakah keadaan bersamanya pada waktu itu padahal kau telah
berkata dan telah bertindak dengan kata-kata dan tindakan itu maka jalan siksa
dirimu dengan hal-hal yang menyebabkan penyesalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar