“Diantara
ketulusan cinta kepada Allah dan rasul-nya adalah mencintai orang-orang yang
dicintai oleh Allah dan Rasul-nya dan rasul mencintai istri-Istrinya dan mencintai
para sahabatnya".
Nasihat keenam adalah bagian
dari mencintai suami adalah mencintai orang-orang yang dicintai oleh suami dan
kaidah ini berlaku untuk suami dan istri, dalam pengertian bagian dari
mencintai suami adalah mencintai keluarga suami dan bagi dari mencintai istri
adalah mencintai keluarga istri. Tidaklah aneh rasa cintanya seorang wanita
dengan suaminya, akan tetapi bagian dari ketulusan rasa cinta kepada suami adalah
mencintai orang-orang yang dicintai oleh suami terutama ayah dan ibu suami,
saudara laki-laki, saudara perempuan suami demikian juga teman-teman dekat
suami.
Sebaliknya juga demikian maka
diantara bukti ketulusan cinta kepada istri adalah mencintai orang-orang yang
dicintai oleh istri; mencintai orang tua istri ayah dan ibu istri, saudara laki
laki dan perempuannya demikian juga
mencintai dalam pengertian baik dengan kawan-kawan istri. Oleh karena itu
diantara ketulusan cinta kepada Allah dan Rasul-nya adalah mencintai
orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-nya dan Rasul mencintai istrinya
Istrinya dan mencintai para sahabatnya. Sangat aneh jika mengaku cinta Rasul
namun benci dengan semua istri rasul dan semua para sahabat rasul dan ini cinta
yang dusta.
Jadi demikian juga antara
ketulusan cinta dan bakti seorang anak kepada Ayahnya adalah menjalin hubungan
dengan orang yang dicintai oleh ayahnya meskipun ayahnya telah meninggal dunia.
Sebagaimana
sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam “kebaikan atau Bakti yang paling
Bakti adalah menjalin hubungan baik dengan orang yang dekat di hati ayah setelah
Ayah meninggal dunia (diriwayatkan oleh muslim).
Demikian juga maka engkau wahai seorang Muslimah,
jika engkau adalah orang yang tulus dalam cintamu kepada suamimu maka cintailah
orang-orang yang dicintai oleh suamimu terutama orang tua suami. Dengan cara nampakanlah
di depan mertua sikap memuliakan, mendoakan, rasa cinta diantara bentuknya
adalah senang, gembira ketika melihat keduanya dan bersikap kepada keduanya sebagaimana
sikap suami kepada aorang tuannya. Sikap seorang anak kepada kedua orangtuanya
yaitu adab penghormatan, cium tangan kalau-kalau dalam budaya orang Arab ada
cium kepala kening, menanyakan kabar keduanya dan berulang kali mengunjungi
keduanya.
Terutama dalam hal ini untukmu wahai
muslimah terutama kepada Ibu suami maka telah menjadi budaya wanita sejak zaman
dulu dan zaman sekarang terdapat seringkali terjadi dalam tanda kutip
peperangan yang sengit antara istri dengan ibu mertuanya yang boleh jadi karena
pasangan suami istri ini malah keduanya menjadi alat peperangan diantara para ibu,
seringkali terjadi peperangan antara ibu mertua dengan menantu perempuannya
maka disini dipesankan oleh penulis secara khusus berikanlah sikap yang baik
terutama kepada Ibu suami.
Diantara hal yang unik yang dipesankan
oleh ibu kepada pada salah satu anak perempuannya yang hendak menikah dengan mengatakan
“kewajibanmu wahai pemimpin anak-anak perempuan untuk durhaka kepada suamimu sampai
akhir hidup suami. Rutinkanlah mencemburui suami dan mencacinya dan perangilah setiap
hari Ibu suami, jauhkanlah antara ibu suami dengan suami dan mata ibu mertua Panaskanlah
demikian juga mata suami”.
Dan Ibu yang lainnya berpesan pada anak
perempuannya yang demikian berbakti “aku wasiatkan orang yang baik hatinya, merdeka.
Aku pesankan bersikap baik kepada anjing dan aku pesankan untuk berbuat buruk
kepada saudara suami, maka jangan engkau bosan untuk memukulinya dan menariknya
sehingga engkau melihat manisnya kehidupan pahit.
Maka dua Ibu ini demi allah
tidaklah berwasiat yang baik pada putrinya. Dan mayoritas kerusakan istri itu
adalah dari pintu ini yaitu wasiat ibu yang tidak benar terutama jika ibunya
itu adalah betul-betul orang yang berkurang akalnya. Namun betapapun keadaan
ibu suami yaitu ibu mertua berbuat salah, teledor maka perlu kita ketahui wahai
kamu seorang istri yang baik bahwasanya ibu mertua itu adalah pengganti ibumu
karena dia adalah ibu dari orang yang kau cintai yaitu suamimu, maka sikapilah
ibu mertua dengan sikap-sikap yang suami itu menginginkan darimu seperti itu. Maka
Sebagaimana telah terjadi pada dirimu kesalahan Ibu kandungmu yang melahirkanmu
dan engkaupun memaafkan kesalahannya maka demikianlah engkau bersikap kepada ibu
suamimu sesuai dengan kemampuan yang ada.
Namun, rasa cintanya hati
tidaklah dimiliki kecuali Sang Pemilik Hati yaitu Allah subhanahuwa ta'ala.
Rasa cinta dihati pada ibu mertua adalah Allah yang atur atau namun minimal dalam
kemampuan engkau menampakkan kebaikan
dan membalas gangguan dari ibu mertua dengan kata-kata yang baik dan tetap berinteraksi
yang lembut. Sebagaimana Firman Allah ta'ala “Tidaklah sama perbuatan
baik dan perbuatan jelek, balaslah perbuatan buruk dengan baik”.
Oleh karena itu, orang yang
antara engkau dengannya terdapat permusuhan maka balaslah dengan sikap yang
baik, seakan-akan kawan yang dekat. Ketika kita menampakkan sikap yang baik kepada orang lain itu adalah satu kiat yang
sangat efektif, satu pengambil hati yang sangat bagus kepada orang yang
memusuhi kita. Jadikanlah dia seakan-akan kawan dekat yaitu karena menambahkan
cinta, bagusnya interaksi bersama kita dan kita tidaklah menginginkan darinya
kecuali hal itu.
Tidak disyaratkan ibu suami itu
kepadamu wahai istri menjadi kawan yang dekat dengan hatinya. Akan tapi cukup
dengan bagusnya interaksi-interaksimu bersamanya, engkau bisa mendapatkan
tindakan-tindakan terlihat jelas dari ibu mertua kepadamu. Semacam ini sikap kepada
Ibu, lakukanlah kepada saudara perempuan suami dan saudara laki-laki suami
demikian juga sikap semacam ini berikan kepada kawan-kawan dekat suami. Jika
engkau mengetahui kunjungan orang yang demikian agungnya dan mulianya orang
yang mendapatkan pengakuan dan kemuliaan dari suamimu maka tambahlah dalam
memuliakannya dan nampakkan kepada suamimu engkau gembira dengan kedatangannya,
supaya semakin besar rasa gembiranya suami dengan kedatangan kawannya ketika
singgah di rumahnya seorang tamu.
Janganlah engkau rusak untuk suamimu
kegembiraannya ketika ada kunjungan kawan yang dia cintai sebagaimana kebiasaan
sebagian wanita. Karena telah berjalan kebiasaan wanita-wanita yang kurang akalnya
(punya kebiasaan tidak suka dengan teman suami) dengan alasan temen suami ini
menyibukkan suami sehingga tidak memperhatikan dirinya dan mengambil waktu
suami darinya dan dengan alasan-alasan yang murah yang lainnya juga ini satu
tindakan yang tidak layak. Jika suami itu lama sekali menemani temannya
sehingga menyebabkan mengurangi hak pergaulan dengan istri, maka engkau istri mintalah
hakmu dengan lembut tanpa melecehkan temennya. Ini adalah tindakan yang
betul-betul logis dan adalah bagian dari tindakan yang indah.
Maka betapa indahnya pepatah
Arab dan merupakan dikenal orang-orang awam syair yaitu “Dikarenakan satu orang,
maka satu kota dimuliakan” Nah ini sebagaimana hal ini ditujukan kepada
keluarga suami maka demikian juga semestinya ini diberikan oleh suami kepada
keluarga istri merasa gembira dengan kedatangan orang tua istri merasa senang
merasa bahagia dan menyambutnya dengan penuh penghormatan dengan penuh
penghargaan semestinya demikian. Meskipun kita katakan secara timbangan syariat
tidak ada kewajiban untuk berbakti kepada mertua. Namunya yang jelas mertua itu
adalah orang yang sangat berjasa dalam hidup kita karena beliaulah yang menjadi
sebab kita bisa bersama dengan orang yang kita cintai. Maka patut untuk kita
nampakkan sikap-sikap semestinya dan sewajarnya yaitu penghormatan penghargaan
dan seterusnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar