Kamis, 03 Februari 2022

Agar Muslimah siap Menikah #07

 


Diantara ketulusan cinta kepada Allah dan rasul-nya adalah mencintai orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-nya dan rasul mencintai istri-Istrinya dan mencintai para sahabatnya".

                Nasihat keenam adalah bagian dari mencintai suami adalah mencintai orang-orang yang dicintai oleh suami dan kaidah ini berlaku untuk suami dan istri, dalam pengertian bagian dari mencintai suami adalah mencintai keluarga suami dan bagi dari mencintai istri adalah mencintai keluarga istri. Tidaklah aneh rasa cintanya seorang wanita dengan suaminya, akan tetapi bagian dari ketulusan rasa cinta kepada suami adalah mencintai orang-orang yang dicintai oleh suami terutama ayah dan ibu suami, saudara laki-laki, saudara perempuan suami demikian juga teman-teman dekat suami.

                Sebaliknya juga demikian maka diantara bukti ketulusan cinta kepada istri adalah mencintai orang-orang yang dicintai oleh istri; mencintai orang tua istri ayah dan ibu istri, saudara laki laki dan  perempuannya demikian juga mencintai dalam pengertian baik dengan kawan-kawan istri. Oleh karena itu diantara ketulusan cinta kepada Allah dan Rasul-nya adalah mencintai orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-nya dan Rasul mencintai istrinya Istrinya dan mencintai para sahabatnya. Sangat aneh jika mengaku cinta Rasul namun benci dengan semua istri rasul dan semua para sahabat rasul dan ini cinta yang dusta.

                Jadi demikian juga antara ketulusan cinta dan bakti seorang anak kepada Ayahnya adalah menjalin hubungan dengan orang yang dicintai oleh ayahnya meskipun ayahnya telah meninggal dunia.

Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam “kebaikan atau Bakti yang paling Bakti adalah menjalin hubungan baik dengan orang yang dekat di hati ayah setelah Ayah meninggal dunia (diriwayatkan oleh muslim).

                 Demikian juga maka engkau wahai seorang Muslimah, jika engkau adalah orang yang tulus dalam cintamu kepada suamimu maka cintailah orang-orang yang dicintai oleh suamimu terutama orang tua suami. Dengan cara nampakanlah di depan mertua sikap memuliakan, mendoakan, rasa cinta diantara bentuknya adalah senang, gembira ketika melihat keduanya dan bersikap kepada keduanya sebagaimana sikap suami kepada aorang tuannya. Sikap seorang anak kepada kedua orangtuanya yaitu adab penghormatan, cium tangan kalau-kalau dalam budaya orang Arab ada cium kepala kening, menanyakan kabar keduanya dan berulang kali mengunjungi keduanya.

                Terutama dalam hal ini untukmu wahai muslimah terutama kepada Ibu suami maka telah menjadi budaya wanita sejak zaman dulu dan zaman sekarang terdapat seringkali terjadi dalam tanda kutip peperangan yang sengit antara istri dengan ibu mertuanya yang boleh jadi karena pasangan suami istri ini malah keduanya menjadi alat peperangan diantara para ibu, seringkali terjadi peperangan antara ibu mertua dengan menantu perempuannya maka disini dipesankan oleh penulis secara khusus berikanlah sikap yang baik terutama kepada Ibu suami.

                Diantara hal yang unik yang dipesankan oleh ibu kepada pada salah satu anak perempuannya yang hendak menikah dengan mengatakan “kewajibanmu wahai pemimpin anak-anak perempuan untuk durhaka kepada suamimu sampai akhir hidup suami. Rutinkanlah mencemburui suami dan mencacinya dan perangilah setiap hari Ibu suami, jauhkanlah antara ibu suami dengan suami dan mata ibu mertua Panaskanlah demikian juga mata suami”.

                 Dan Ibu yang lainnya berpesan pada anak perempuannya yang demikian berbakti “aku wasiatkan orang yang baik hatinya, merdeka. Aku pesankan bersikap baik kepada anjing dan aku pesankan untuk berbuat buruk kepada saudara suami, maka jangan engkau bosan untuk memukulinya dan menariknya sehingga engkau melihat manisnya kehidupan pahit.

                Maka dua Ibu ini demi allah tidaklah berwasiat yang baik pada putrinya. Dan mayoritas kerusakan istri itu adalah dari pintu ini yaitu wasiat ibu yang tidak benar terutama jika ibunya itu adalah betul-betul orang yang berkurang akalnya. Namun betapapun keadaan ibu suami yaitu ibu mertua berbuat salah, teledor maka perlu kita ketahui wahai kamu seorang istri yang baik bahwasanya ibu mertua itu adalah pengganti ibumu karena dia adalah ibu dari orang yang kau cintai yaitu suamimu, maka sikapilah ibu mertua dengan sikap-sikap yang suami itu menginginkan darimu seperti itu. Maka Sebagaimana telah terjadi pada dirimu kesalahan Ibu kandungmu yang melahirkanmu dan engkaupun memaafkan kesalahannya maka demikianlah engkau bersikap kepada ibu suamimu sesuai dengan kemampuan yang ada.

                Namun, rasa cintanya hati tidaklah dimiliki kecuali Sang Pemilik Hati yaitu Allah subhanahuwa ta'ala. Rasa cinta dihati pada ibu mertua adalah Allah yang atur atau namun minimal dalam kemampuan engkau  menampakkan kebaikan dan membalas gangguan dari ibu mertua dengan kata-kata yang baik dan tetap berinteraksi yang lembut. Sebagaimana Firman Allah ta'ala “Tidaklah sama perbuatan baik dan perbuatan jelek, balaslah perbuatan buruk dengan baik”.

                Oleh karena itu, orang yang antara engkau dengannya terdapat permusuhan maka balaslah dengan sikap yang baik, seakan-akan kawan yang dekat. Ketika kita menampakkan sikap yang baik  kepada orang lain itu adalah satu kiat yang sangat efektif, satu pengambil hati yang sangat bagus kepada orang yang memusuhi kita. Jadikanlah dia seakan-akan kawan dekat yaitu karena menambahkan cinta, bagusnya interaksi bersama kita dan kita tidaklah menginginkan darinya kecuali hal itu.

                Tidak disyaratkan ibu suami itu kepadamu wahai istri menjadi kawan yang dekat dengan hatinya. Akan tapi cukup dengan bagusnya interaksi-interaksimu bersamanya, engkau bisa mendapatkan tindakan-tindakan terlihat jelas dari ibu mertua kepadamu. Semacam ini sikap kepada Ibu, lakukanlah kepada saudara perempuan suami dan saudara laki-laki suami demikian juga sikap semacam ini berikan kepada kawan-kawan dekat suami. Jika engkau mengetahui kunjungan orang yang demikian agungnya dan mulianya orang yang mendapatkan pengakuan dan kemuliaan dari suamimu maka tambahlah dalam memuliakannya dan nampakkan kepada suamimu engkau gembira dengan kedatangannya, supaya semakin besar rasa gembiranya suami dengan kedatangan kawannya ketika singgah di rumahnya seorang tamu.

                 Janganlah engkau rusak untuk suamimu kegembiraannya ketika ada kunjungan kawan yang dia cintai sebagaimana kebiasaan sebagian wanita. Karena telah berjalan kebiasaan wanita-wanita yang kurang akalnya (punya kebiasaan tidak suka dengan teman suami) dengan alasan temen suami ini menyibukkan suami sehingga tidak memperhatikan dirinya dan mengambil waktu suami darinya dan dengan alasan-alasan yang murah yang lainnya juga ini satu tindakan yang tidak layak. Jika suami itu lama sekali menemani temannya sehingga menyebabkan mengurangi hak pergaulan dengan istri, maka engkau istri mintalah hakmu dengan lembut tanpa melecehkan temennya. Ini adalah tindakan yang betul-betul logis dan adalah bagian dari tindakan yang indah.

                Maka betapa indahnya pepatah Arab dan merupakan dikenal orang-orang awam syair yaitu “Dikarenakan satu orang, maka satu kota dimuliakan” Nah ini sebagaimana hal ini ditujukan kepada keluarga suami maka demikian juga semestinya ini diberikan oleh suami kepada keluarga istri merasa gembira dengan kedatangan orang tua istri merasa senang merasa bahagia dan menyambutnya dengan penuh penghormatan dengan penuh penghargaan semestinya demikian. Meskipun kita katakan secara timbangan syariat tidak ada kewajiban untuk berbakti kepada mertua. Namunya yang jelas mertua itu adalah orang yang sangat berjasa dalam hidup kita karena beliaulah yang menjadi sebab kita bisa bersama dengan orang yang kita cintai. Maka patut untuk kita nampakkan sikap-sikap semestinya dan sewajarnya yaitu penghormatan penghargaan dan seterusnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

baca lagi

Agar Muslimah siap menikah #01

yang lainnya