Umar Ibnu Khattab mengatakan;
Oleh Al-Hakim At-Tirmidzi dari Abu Darda' Radhiallahu Anhu:
“Tidaklah seorang hamba menghadapkan hatinya kepada Allah, kecuali Allah akan jadikan hati orang-orang yang beriman mendatanginya dengan Cinta"
Jika Allah menginginkan seseorang untuk terlindung dari kejahatan manusia, diberi kemudahan menghadapi beragam kesusahan dan keluar dari bermacam kesempitan atau ingin tahu mana yang benar dan salah maka Allah menjamin untuk siapa saja yang beribadah kepada-Nya dengan sebenar-benar ibadah. Allah jadikan usaha seseorang mudah dengan ketakwaan.
Firman Allah Ta'ala:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3).
Jika ikhlas niat karena Allah subhanahu wa ta'ala, yang dia pikirkan dan amalnya itu untuk mendapat wajah Allah Subhanahu Wa Ta'ala maka Allah bersamanya, Allah itu bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat baik dan modal dari takwa dan berbuat baik adalah murninya niat karena Allah dalam melaksanakan kebenaran dan Allah itu tidak ada yang mengalahkannya.
Para ulama Fiqih saling mewasiatkan tiga hal di antara mereka dan sebagiannya menulis surat menyampaikan hal ini kepada yang lainnya yaitu Siapa yang beramal untuk akhirat maka Allah akan membereskan urusan dunianya; Siapa yang memperbaiki keadaannya ketika sepi sendiri maka akan diperbaiki keadaannya ketika bersama dengan orang lain; dan siapa yang memperbaiki hubungan antara dia dengan Allah, maka akan diperbaiki hubungan antara dia dengan manusia.
Abu Hazim mengatakan "tidaklah seorang hamba itu berbuat baik memperbagus hubungan antara dia dengan Allah, kecuali Allah akan memperbagus hubungan antara dia dengan manusia. Dan tidaklah Allah mengeruhkan hubungan antara dia dengan Allah kecuali Allah akan jelekkan hubungan antara dia dengan para hamba".
Yakinlah dengan pertolongan Allah, bantuan Allah, penjagaan dari Allah dan perhatian kepada Allah dengan syarat jika engkau wahai muslimah istikamah di atas jalan kebaikan, perbaiki hubungan antara dirimu dengan Allah. Maka dengan hal ini akan terwujud bagimu kebahagiaan lahiriyah dan batiniyah.
Jika seorang wanita itu telah memperbaiki hubungannya dengan Allah yang membuat ibadahnya bagus, kualitas agamanya bagus. MAKA apa manfaatnya terkait dengan kehidupan rumah tangga yang tidak lepas dari cobaan?
Jika kamu diberi kemudahan untuk mendapatkan lelaki yang Salih, lelaki yang baik, lelaki yang berakal, yang berpikir jauh ke depan, yang adil maka bergembiralah wahai saudariku engkau mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin.
Namun jika seorang muslimah telah Istikamah dijalan kebenaran, jalan Islam namun ternyata engkau mendapatkan cobaan mendapatkan suami, mendapatkan laki-laki yang ternyata tidak menjaga hak-hak Allah pada dirimu. Maka kamu tidaklah kehilangan kebahagiaan batin dengan kepasrahan terhadap Qadar dan takdir Allah subhanahu wa ta'ala.
Hendaknya masing-masing muslimah itu memantaskan diri mendekat kepada Allah. Istikamah diatas jalan kebenaran. bukan karena memantaskan diri itu pasti dapat lelaki yang salih karena dia telah memantaskan diri sebagai wanita shalihah? hal ini belum tentu. Bisa jadi kamu diberi kemudahan untuk punya suami yang shalih, berakal, bertanggungjawab, adil maka dia dapat kabar gembira lahir dan batin. Dan jika kita telah memantaskan diri, Istikamah diatas Jalan Kebenaran ternyata diberi ujian lelaki yang tidak seindah apa yang dikira maka berbahagialah bahwasanya engkau wahai muslimah tetap akan mendapatkan kebahagiaan batin syaratnya pasrah dengan takdir Allah bersabar dengan cobaan dan ujian Allah.
disampaikan oleh Ustadz Dr. Aris Munandar, SS, MPI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar