Kamis, 17 September 2020

Diajari sabar


    Kenapa senyum itu mulai jarang? ceritamu kalau melihat hidup orang terlihat sangat menyenangkan yang berbanding terbalik denganmu. Tidak demikian, itu sebab kita tidak pernah tau besarnya usaha dia menyembunyikan pilu, kita tidak pernah tau keluhnya ketika mengadu. 

    Kamu tau bahwa Allah menghadirkan masalah sepaket dengan solusi. Mungkin kamu tengah kecewa, luka, sedih, merasa sepi. Sadarlah jika di balik itu semua Allah akan hadirkan pahala, Allah akan hadirkan kekuatan jika kamu menerima dengan hati lapang, syukur dan sabar .

    Kenapa senyum itu jarang? kenapa hati itu jengkel? kenapa lisan tak bisa menahan dari gerutu?. Mengertilah dan belajarlah bersabar, bahwa ini ketetapan untukmu, bahwa doa yang kamu mohon tidak harus terkabul sekarang.

    Berusaha untuk menerima atas keberhasilan disekitar. Jangan menganggap diri kecil sebab tak ada kesepakatan untuk mulai bersama bukan?  tidak ada perlombaan siapa yang paling cepat sampai. Apalagi ini perkara dunia.

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” 
  (QS. Az Zumar: 10)

    Sabar pada ketetapan itu perlu agar kamu bisa lebih tenang, lebih fokus meningkatkan kualitas diri. Lagipula, tak ada gunanya iri pada dia yang berhasil duluan selain pahala terkuras deras, ini berbeda jika kamu bisa mengambil pelajaran darinya.

    Sabar itu perlu. Kamu perlu sabar dalam belajar, perlu sabar untuk menerima, perlu sabar untuk sesuatu yang besar. Butuh waktu memang membuat diri paham bahwa ini bagian dari ketetapan yang dengannya tidak pernah membuat arti yang salah. Tinggal kita yang berusaha memperbaiki prasangka untuk terus baik, untuk terus percaya bahwa ini bagian dari takdir yang Allah hadirkan untukmu, untuk kita, baik berupa ketidakadilan, kekecewaan, ataupun kesedihan. Dengan itu semua, Allah sedang ajarkan kita untuk lebih bersabar.

Kamis, 17/09/2020
📝 yessilestari__

Selasa, 11 Agustus 2020

Setelah mencari tau

    Bertanya keberadaan nya walau ujung khimar nya saja langkah terekam netra.  Beberapa waktu belakangan tak kunjung berseliweran di beranda sosial media atau mungkin lewat stori yang di unggah. tak lagi nampak postingan yang mengingatkan pada kebenaran.  memilih bersembunyi, namanya asing dari kalayak, tak bising dan tenang.

    Ternyata setelah mencari tau keadaan nya sekarang dia tengah bergulat hebat dengan diri nya sendiri dengan sanak saudara, keluarga, tetangga untuk bisa mempertahankan syariat.  Lebih fokus menelaah kitab ulama, lebih senang menghapal dan membaca tafsir kitab suci alquran, sibuk menambah hapalan. 

    Aku beranikan bertanya mengapa meninggalkan kesenangan ini padahal masih banyak yang bisa di ambil untuk akhirat. Bisa menebak bagaimana jawabnya ? berhasil membuatku kehabisan kata. Bilangnya begini.

“Aku hanya ingin memantaskan diri, meningkatkan kualitas diri, mengajak orang sekitar pada ilmu yang telah Allah beri padaku. Sungguh aku tak ingin jika lalai terlalu jauh, menjadikan dunia segalanya mengajak orang banyak dan ingin terlihat baik di hadapan mereka yang menurutku menipu. Padahal keadaan diri saja masih terseret paksa untuk bisa menjalankan perintah-Nya, keadaan keluarga saja masih bebal untuk menerimah ketetapan juga lunak hati menerima kebenaran. Kalau kau menanyakan kemana aku pergi maka aku masih di sini di bumi jika tidak kau temukan aku di rumah maka masih kau temukan aku terkapar di sana, tulang belulang tertimpa papan juga sempitnya ruang. Tak penting bagiku di kenal kalayak jika Allah saja tak mengenal diriku. Penduduk langit tak membicarakanku".

    Basyr bin Al Harits Al Hafiy mengatakan, “Aku tidak mengetahui ada seseorang yang ingin tenar kecuali berangsur-angsur agamanya pun akan hilang. Silakan jika ketenaran yang dicari. Orang yang ingin mencari ketenaran sungguh ia kurang bertakwa pada Allah.” 

    Kamu tidak mau jika hanya saliha di dunia maya namun sangat nol didunia nyata. Maka pilihmu menutup akunmu sebab takut jika itu membuat lalai dari mengingat Allah. Tetaplah jadi dirimu, jangan terusik dengan komentar mereka di luar sana yang tidak mengerti betapa nyamanya hidup tanpa harus menilai orang dari berapa banyak likes, coment,views, shere di akun sosial media. Tetaplah tenang dan nikmati hidup mu dengan menjadikan Dia rida dengan menitih jalan Rasullulah. 

    Jangan membuat diri sibuk menanyakan kemana pergi nya? bagaimana keadaannya? coba berbaik sangka atas pilihan, sebab ada saja bermacam jalur yang dipilih yang memang demi kebahagian yang lebih, demi mempersiapkan bekal untuk nikmat yang kekal. 

    Kamu lagi-lagi mengingatkan diri bahwa menjadi saliha tidak mudah. Di saat yang lain berlomba tentang angka yang paling banyak di sosial media, kamu malah memutusnya. Bukan menghilang dari peradaban, bukan. Memang tak mudah mengontrol diri, membagi waktu. Akhirnya, pilihmu mengakhiri agar tak terperosok terlalu jauh.

09/08/2020
📝 Yessi lestari



Rabu, 08 Juli 2020

Mengejar dunia?



Bismillahirrahmannirrahiim... 

    Mungkin saja kamu dapati teman-teman  SD, SMP maupun SMA mu yang kini seusai tamat sekolah menengah atas, teman teman sebaya yang sudah bisa menghasilkan kekayaan, ada juga yang berambisi mengumpulkan pujian, popularitas, atau mungkin kamu temui mereka yang merajut kembali cinta sejak Sma.
    Apa yang dikenal sejak kecil, dibisikkan pada kuping mungil, bahkan tersiar dalam iklan dan acara televisi yang disebut sebagai mengejar cita-cita setinggi langit? 
    Alangkah ruginya jika cita cita kita hanya tentang dunia, hanya tentang uang, pujian, pengikut atau cinta nafsu yang dituruti itu. Tidakkah ingin berpikir lebih jauh, lebih besar lagi? Sebab ketika menjadikan dunia sebagai prioritas atau kita hanya mengandalkan dunia, siap siaplah saatnya nanti kita dibuat kecewa olehnya, siap siaplah untuk tidak puas atas apa-apa yang diperjuangkan. Pada kenyataannya inilah hakikat dunia kita ngga akan pernah terpuaskan olehnya. 
    Ketika suatu usaha yang kita lakukan dengan susah payah. Contoh ketika ikut tes mati-mati an belajar namun hasilnya gagal, terlintas di benak menganggap dunia ini tidak adil, Padahal sejatinya kitalah yang sok pintar mengganggap itu terbaik buat kita. Kita mempertanyakan nasib buruk pada Sang Pencipta, disitu pentingnya belajar tauhid, belajar untuk lebih bisa menerima ketetapan. Allah lebih tau yang terbaik untuk hambaNya. 
    Betapa lapangnya hati seorang hamba, jika segala sesuatu melibatkan Allah di dalam urusannya. Ketika ia gagal ia tidak kecewa, putus asa, gila, ataupun mengganggap apa yang terjadi sekarang itu tak adil. Ia punya tujuan lebih besar yaitu akhirat, ketika tujuan-tujuan dunia tak berhasil, ia tak begitu kecewa, sebab baginya dunia bukan prioritas, penilaian manusia bukan segalanya, ia tak ikut arus teman sebaya yang menjauhkan dia dari agama, ia mengerti balasan lebih besar kelak di akhirat.

Kamis, 09/07/2020
yessilestari__

baca lagi

Agar Muslimah siap menikah #01

yang lainnya