"Kemuliaan dan kedermawanan seorang suami itu seperti pohon kurma semakin sempurna
penyiramannya maka akan semakin enak buahnya".
NASIHAT yang ke-8 adalah waspadailah kekafiran yaitu menutupi. Dan yang dimaksudkan menutupi adalah menutupi kebaikan suami.
Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ketika Seselesainya dari shalat Kusuf (shalat Gerhana), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menceritakan surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau ketika shalat.
"Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).
Menutupi kebaikan suami dan bentuknya adalah kejahatan lisan dengan pilihan kosakata yang menyakitkan yaitu
peniadaan secara total atas kebaikan suami. Seandainya engkau berbuat baik kepada seorang istri di sepanjang waktu kemudian
istri ini melihat darimu sesuatu yang
menjengkelkannya maka
dia mengatakan tidak pernah merasakan kebaikan darimu sekali pun. Dan perkataan
yang disebut dengan menutupi
kebaikan suami.
Menutup kebaikan suami adalah dosa lisan dengan
negatif general ‘’Aku tidak pernah melihatmu darimu kebaikan
sedikitpun’’ atau “engkau tidak pernah berbuat baik/selalu menyakiti/tidak peduli/egois kepadaku’’ atau kalimat-kalimat
yang sejenis atau menggunakan kalimat ‘’setiap kali’’ setiap kali aku sedang sedih engkau tidak pernah peduli, atau ‘’ tidak pernah”
atau ‘’sama sekali
tidak’’ atau ‘’ mesti’’ . Ini daftar kosakata yang wajib dijauhi oleh
seorang istri shalihah. ganti dengan “seringkali” atau “kadang-kadang” “seringnya menjadi kebiasaan-kebiasaan” dan lain-lain.
Diantara bentuk menutupi kebaikan suami
adalah semua yang kebaikan pernah dilakukan oleh suami dianggap palsu, pura-pura, imitasi, basi-basi, seperti “sekarang aku tahu
selama ini cintamu selama ini cinta palsu” semua kebaikan suami
ditiadakan, ini juga diantara bentuk lain menutupi
kebaikan suami dengan meniadakan kalau suami pernah berbuat kebaikan.
Tindakan nyata ini melampaui dari batas
yang diperbolehkan menuju bohong dan mengada-ada kalau mengatakan “sama sekali engkau tidak pernah peduli ketika aku
susah” jadinya bohong karena realitanya tidak
demikian, zalim sama suami. Dari
suami yang muncul adalah
penghancuran rasa percaya dan menanamkan ganjalan dan dendam di hati suami
terhadap dirimu. Bisa jadi nanti suami akan berfikir suatu waktu akan balas ada keinginan untuk membalas, ada dendam. Bagaimana pun seorang suami lakukan
ini dan itu kemudian diingkari tanpa ada pengakuan yang pernah dilakukan oleh
suami. Allah ta'ala memerintahkan kita untuk adil dan adil tu objektif. Kalau suami itu
mengecewakan banyak, jangan dibilang semua atau kalau “kadang” jangan dibilang “sering/ selalu” kalau kemudian “kadang-kadang” jangan dibilang “ini hobi” gitu. Karena ungkapan penilaian demikian itu
namanya tidak adil tidak objektif. Allah perintahkan kita untuk adil juga objektif dan yang
lebih bagus adalah berbuat baik ketika suami bikin hal yang
kecewa atau minimal diam saja.
Kemudian
dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma dari Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Salam bersabda,”Allah tidak akan
memperhatikan seorang perempuan yang tidak berterima kasih pada suaminya
padahal wanita ini selalu membutuhkan suaminya karena membutuhkan suaminya
dalam artian membutuhkan nafkah suami membutuhkan perlindungan suami dan yang
lainnya. (HR an-nasa'i dan al-bazzar).
Sangat disayangkan sikap semacam ini menutupi
kebaikan suami dengan negatif general terhadap kebaikan-kebaikan, perhatian, peduli, cinta suami adalah kebiasaan mayoritas
perempuan. Meskipun sebenarnya ini bukanlah asal penciptaan wanita bukan pula itu
kondisi asli agama seorang wanita. Disinilah terlihat
wanita istri itu shaliha ataukah tidak. Istri shalihah punya kemampuan untuk mengendalikan
diri supaya tidak menutupi kebaikan suaminya karena ini bukti bahwasanya seorang
perempuan, seorang istri yang bisa menghindari
contoh-contoh kalimat yang diatas tadi jadilah wanita istimewa tidak sebagaimana umumnya
perempuan. Wanita yang bisa menghindarkan diri dari negasi general dampaknya adalah
menutupi kebaikan suami jawabannya adalah wanita yang berat akalnya, punya akal yang baik
dan dia wanita yang beragama, maka wanita ini mengetahui kebaikan orang yang
berbuat baik dan tidak menzalimi siapapun dan diantara bentuk kezaliman adalah menutupi jasa dan
kebaikan orang yang berjasa.
Maka wahai seorang Istri janganlah ketika suami itu tidak memenuhi satu
kebutuhan yang kau inginkan atau ada konflik yang terjadi diantara kalian
berdua, maka hal ini janganlah mendorongmu wahai seorang muslimah untuk menghancurkan semua yang telah berlalu berupa kebaikan dan pemuliaan kepada istri yang dia lakukan.
Allah ta'ala mengingatkan kita untuk
tidak zalim sebagaimana firman Allah ta'ala
“Wahai orang-orang yang beriman jadilah kalian
orang-orang yang menegakkan keadilan menjadi saksi karena Allah meskipun
persaksian itu menyudutkan diri kalian sendiri”.
Meskipun persaksian itu menunjukkan saya salah keliru bahkan ketika engkau seorang muslimah
mengakui kalau suami itu memiliki jasa dan kebaikan maka itu akan menarik untuk
bergantinya jasa dengan jasa karena tidaklah balasan kebaikan kecuali kebaikan. Wahai muslimah jika suamimu tidak memberikan apa
yang kau ke inginkan di satu hari, maka bersikaplah
lembut bersamanya ketika ngomong ketika menyampaikan. Contohnya katakan pada suami, “Semoga Allah
menambahkan kebaikan untukmu dan tidaklah Ketika engkau tidak
mau memberikan hajatku ini adalah bukanlah hal yang akan mengurangi kemuliaan, maka Jasamu wahai suamiku terhadap diriku sebelum
titik ini adalah jasa yang banyak, maka jika engkau
wahai suamiku engkau berkenan untuk berbuat baik maka lisanku adalah lisan yang
sangat rajin terima kasih kepadamu. Namun jika engkau
tidak mau berbuat baik maka hatiku di atas sikapmu itu sangat sabar, aib dan kejelekanmu itu
tertutupi tidak akan saya ceritakan kepada ayah ibu dan
yang lainnya dan kesalahanmu dimaafkan. Hal itu karena sejak dulu banyak jasa berupa kebaikanmu dan kemurahanmu kepadaku dan dikarenakan
karena betapa tingginya kedudukanmu di hati ku”.
Hal semacam ini, disini terdapat kebaikan berupa engkau
muslimah taat kepada Allah dalam bersikap objektif ketika bertengkar, ada contoh kata-kata yang baik dan menjauhi hal yang
haram yaitu menutupi kebaikan soal. Dan diantara manfaatnya dengan itu engkau menarik rasa cinta suami karena ucapan
semisal di atas yang tercipta dicontohkan mendorong orang yang mulia untuk
memuliakan jika suami itu laki-laki yang mulia maka
dia akan menyadari kemudian akan berupaya memuliakan istrinya
Sebagaimana menutupi kebaikan suami itu
tercela, maka demikian juga sebaliknya bertema kasih kepada suami satu hal yang terpuji. Oleh karena itu perbanyaklah selalu berterima kasih kepada suami karena kebaikan suami, akuilah kalau
terus-menerus setiap hari suami itu berjasa dan berbuat baik kepadamu dan akuilah betapa besar betapa
luar biasa service suami untukmu. Sehingga engkau muslimah engkau
tidak mampu untuk membalas kebaikannya dengan yang semisal maka perbanyaklah doa kebaikan untuk suami dengan mengatakan jazakallahu khairon semoga engkau balas dengan
yang lebih baik, Semoga Allah tambahkan dari sebagian
karunianya. Perbanyaklah mengatakan “wahai suami ke engkau tidak teledor, bantuanmu sangat
baik, sangat bagus. Seharusnya aku yang banyak melayani ternyata engkau yang banyak melayani
dan pelayananmu terhadapku Masya Allah luar biasa dan perkataan-perkataan yang
lain yang merupakan perkataan yang tinggi dan luhur karena kalimat-kalimat
semacam nih menguatkan ikatan hubungan suami istri.
Kemuliaan dan kedermawanan seorang suami itu seperti pohon kurma semakin sempurna
penyiramannya maka akan semakin enak buahnya. Maka tambahkan air atau pengairan (pemuliaan kepada suamimu) dengan sanjungan, apresiasi, terima kasih serta doa untuknya dengan doa
yang baik. Ini masalah ini ideal sekali respon seorang istri kepada suaminya ada
tiga dikatakan Sanjungan, terima kasih kemudian doa kebaikan. Ketika suami ngasih uang belanja maka berterima kasilah kepada
suami dengan melakukan tiga hal ini.
Berkenaan dengan hadits yang diawal nasihat disampaikan bahwasanya mayoritas penghuni Neraka adalah wanita. Kalau kita kumpulkan hadits-hadits tentang hal ini kesimpulannya ada tiga
dosa yang menyebabkan wanita itu menjadi penghuni neraka yang paling banyak dan
tiga-tiganya dosa lisan semua. Bayangkan betapa gawatnya lisan gara-gara inilah maka
wanita menjadi di penghuni neraka yang paling banyak.
Pertama, menutupi kebaikan suami.
“Dan aku melihat
neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan
aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya,
“Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau
menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau,
“Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak,
melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami).
Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu
waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan
di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat
kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).
Kedua, gemar mencaci , mengumpat, mengucapkan sumpah serapah atau laknat.
Orang-orang yang
menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka
perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.
(QS. Al-Ahzab: 58)
Ketiga, suka mengeluh.
Dari Jabir radhiyallahu
‘anhu, ia berkata, “Aku pernah menghadiri shalat ied bersama Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Beliau memulai dengan shalat kemudian khutbah tanpa azan dan
tanpa iqamah. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri
bersandar pada Bilal, beliau memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah dan
mendorong untuk taat kepada-Nya. Beliau memberikan wejangan dan mengingatkan
manusia saat itu. Kemudian beliau lewat dan mendatangi jamaah wanita lantas
beliau menyampaikan wejangan dan mengingatkan mereka. Beliau berkata, “Wahai
para wanita, bersedekahlah karena kalian itu yang paling banyak menjadi bahan
bakar neraka Jahannam.”
Kemudian ada seorang wanita terbaik yang nampak tidak berhias diri di
antara mereka berdiri lalu berkata, “Kenapa wanita yang paling banyak masuk
neraka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,“Karena kalian banyak mengaduh dan
tidak mensyukuri pemberian suami kalian.”
Jabir berkata, “Lantas para wanita bersedekah dengan perhiasan mereka.
Mereka melemparkan perhiasan mereka pada kain Bilal, ada di situ anting dan
cincin mereka.” (HR. Bukhari, no. 978 dan Muslim, no. 885. Imam Bukhari
menyebutkan dalam Bab “Nasihat imam pada wanita pada hari ied”).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar