Rabu, 09 Februari 2022

Agar Muslimah siap Menikah #09

 


"Kemuliaan dan kedermawanan seorang suami itu seperti pohon kurma semakin sempurna penyiramannya maka akan semakin enak buahnya".


            NASIHAT yang ke-8 adalah waspadailah kekafiran yaitu menutupi. Dan yang dimaksudkan menutupi adalah menutupi kebaikan suami. 

Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ketika Seselesainya dari shalat Kusuf (shalat Gerhana), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menceritakan surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau ketika shalat. 

"Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).

                    Menutupi kebaikan suami dan bentuknya adalah kejahatan lisan dengan pilihan kosakata yang menyakitkan yaitu peniadaan secara total atas kebaikan suami. Seandainya engkau berbuat baik kepada seorang istri di sepanjang waktu kemudian istri ini melihat darimu  sesuatu yang menjengkelkannya maka dia mengatakan tidak pernah merasakan kebaikan darimu sekali pun. Dan perkataan yang disebut dengan menutupi kebaikan suami.

                 Menutup kebaikan suami adalah dosa lisan dengan negatif general ‘’Aku tidak pernah melihatmu darimu kebaikan sedikitpun’’ atau “engkau tidak pernah berbuat baik/selalu menyakiti/tidak peduli/egois kepadaku’’ atau kalimat-kalimat yang sejenis  atau menggunakan kalimat ‘’setiap kali’’ setiap kali aku sedang sedih engkau tidak pernah peduli, atau ‘’ tidak pernah” atau ‘sama sekali tidak’’ atau ‘ mesti’’ . Ini daftar kosakata yang wajib dijauhi oleh seorang istri shalihah. ganti dengan seringkali atau kadang-kadang” “seringnya menjadi kebiasaan-kebiasaan dan lain-lain.

                        Diantara bentuk menutupi kebaikan suami adalah semua yang kebaikan pernah dilakukan oleh suami dianggap palsu, pura-pura, imitasi, basi-basi, seperti sekarang aku tahu selama ini cintamu selama ini cinta palsu semua kebaikan suami ditiadakan, ini juga diantara bentuk lain menutupi kebaikan suami dengan meniadakan kalau suami pernah berbuat kebaikan.

                   Tindakan nyata ini melampaui dari batas yang diperbolehkan menuju bohong dan mengada-ada kalau mengatakan sama sekali engkau tidak pernah peduli ketika aku susahjadinya bohong karena realitanya tidak demikian, zalim sama suami. Dari suami yang muncul adalah penghancuran rasa percaya dan menanamkan ganjalan dan dendam di hati suami terhadap dirimu. Bisa jadi nanti suami akan berfikir suatu waktu akan balas ada keinginan untuk membalas, ada dendam. Bagaimana pun seorang suami lakukan ini dan itu kemudian diingkari tanpa ada pengakuan yang pernah dilakukan oleh suami. Allah ta'ala memerintahkan kita untuk adil dan adil tu objektif. Kalau suami itu mengecewakan banyak, jangan dibilang semua atau kalau kadang jangan dibilang sering/ selalu kalau kemudian kadang-kadang jangan dibilang ini hobi gitu. Karena ungkapan penilaian demikian itu namanya tidak adil tidak objektif. Allah perintahkan kita untuk adil juga objektif dan yang lebih bagus adalah berbuat baik ketika suami bikin hal yang kecewa atau minimal diam saja.

                Kemudian dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam bersabda,”Allah tidak akan memperhatikan seorang perempuan yang tidak berterima kasih pada suaminya padahal wanita ini selalu membutuhkan suaminya karena membutuhkan suaminya dalam artian membutuhkan nafkah suami membutuhkan perlindungan suami dan yang lainnya. (HR an-nasa'i dan al-bazzar).           

                Sangat disayangkan sikap semacam ini menutupi kebaikan suami dengan negatif general terhadap kebaikan-kebaikan, perhatian, peduli, cinta suami adalah kebiasaan mayoritas perempuan. Meskipun sebenarnya ini bukanlah asal penciptaan wanita bukan pula itu kondisi asli agama seorang wanita. Disinilah terlihat wanita istri itu shaliha ataukah tidak. Istri shalihah punya kemampuan untuk mengendalikan diri supaya tidak menutupi kebaikan suaminya karena ini bukti bahwasanya seorang perempuan, seorang istri yang bisa menghindari contoh-contoh kalimat yang diatas tadi jadilah wanita istimewa tidak sebagaimana umumnya perempuan. Wanita yang bisa menghindarkan diri dari negasi general dampaknya adalah menutupi kebaikan suami jawabannya adalah wanita yang berat akalnya, punya akal yang baik dan dia wanita yang beragama, maka wanita ini mengetahui kebaikan orang yang berbuat baik dan tidak menzalimi siapapun dan diantara bentuk kezaliman adalah menutupi jasa dan kebaikan orang yang berjasa.

                Maka wahai seorang Istri janganlah ketika suami itu tidak memenuhi satu kebutuhan yang kau inginkan atau ada konflik yang terjadi diantara kalian berdua, maka hal ini janganlah mendorongmu wahai seorang muslimah untuk menghancurkan semua yang telah berlalu berupa kebaikan dan pemuliaan kepada istri yang dia lakukan.

                 Allah ta'ala mengingatkan kita untuk tidak zalim sebagaimana firman Allah ta'ala

Wahai orang-orang yang beriman jadilah kalian orang-orang yang menegakkan keadilan menjadi saksi karena Allah meskipun persaksian itu menyudutkan diri kalian sendiri”.

           Meskipun persaksian itu menunjukkan saya salah keliru bahkan ketika engkau seorang muslimah mengakui kalau suami itu memiliki jasa dan kebaikan maka itu akan menarik untuk bergantinya jasa dengan jasa karena tidaklah balasan kebaikan kecuali kebaikan. Wahai muslimah jika suamimu tidak memberikan apa yang kau ke inginkan di satu hari, maka bersikaplah lembut bersamanya ketika ngomong ketika menyampaikan. Contohnya katakan pada suami, “Semoga Allah menambahkan kebaikan untukmu dan tidaklah Ketika engkau tidak mau memberikan hajatku ini adalah bukanlah hal yang akan mengurangi kemuliaan, maka Jasamu wahai suamiku terhadap diriku sebelum titik ini adalah jasa yang banyak, maka jika engkau wahai suamiku engkau berkenan untuk berbuat baik maka lisanku adalah lisan yang sangat rajin terima kasih kepadamu. Namun jika engkau tidak mau berbuat baik maka hatiku di atas sikapmu itu sangat sabar, aib dan kejelekanmu itu tertutupi tidak akan saya ceritakan kepada ayah ibu dan yang lainnya dan kesalahanmu dimaafkan. Hal itu karena sejak dulu banyak jasa berupa kebaikanmu dan kemurahanmu kepadaku dan dikarenakan karena betapa tingginya kedudukanmu di hati ku”.

                Hal semacam ini, disini terdapat kebaikan berupa engkau muslimah taat kepada Allah dalam bersikap objektif ketika bertengkar, ada contoh kata-kata yang baik dan menjauhi hal yang haram yaitu menutupi kebaikan soal. Dan diantara manfaatnya dengan itu engkau menarik rasa cinta suami karena ucapan semisal di atas yang tercipta dicontohkan mendorong orang yang mulia untuk memuliakan jika suami itu laki-laki yang mulia maka dia akan menyadari kemudian akan berupaya memuliakan istrinya

            Sebagaimana menutupi kebaikan suami itu tercela, maka demikian juga sebaliknya bertema kasih kepada suami satu hal yang terpuji. Oleh karena itu perbanyaklah selalu berterima kasih kepada suami karena kebaikan suami, akuilah  kalau terus-menerus setiap hari suami itu berjasa dan berbuat baik kepadamu dan akuilah betapa besar betapa luar biasa service suami untukmu. Sehingga engkau muslimah engkau tidak mampu untuk membalas kebaikannya dengan yang semisal maka perbanyaklah doa kebaikan untuk suami dengan mengatakan jazakallahu khairon semoga engkau balas dengan yang lebih baik, Semoga Allah tambahkan dari sebagian karunianya. Perbanyaklah mengatakan “wahai suami ke engkau tidak teledor, bantuanmu sangat baik, sangat bagus. Seharusnya aku yang banyak melayani ternyata engkau yang banyak melayani dan pelayananmu terhadapku Masya Allah luar biasa dan perkataan-perkataan yang lain yang merupakan perkataan yang tinggi dan luhur karena kalimat-kalimat semacam nih menguatkan ikatan hubungan suami istri.

            Kemuliaan dan kedermawanan seorang suami itu seperti pohon kurma semakin sempurna penyiramannya maka akan semakin enak buahnya. Maka tambahkan air atau pengairan (pemuliaan kepada suamimu) dengan sanjungan, apresiasi, terima kasih serta doa untuknya dengan doa yang baik. Ini masalah ini ideal sekali respon seorang istri kepada suaminya ada tiga dikatakan Sanjungan, terima kasih kemudian doa kebaikan. Ketika suami ngasih uang belanja maka berterima kasilah kepada suami dengan melakukan tiga hal ini.

                 Berkenaan dengan hadits yang diawal nasihat disampaikan bahwasanya mayoritas penghuni Neraka adalah wanita. Kalau kita kumpulkan hadits-hadits tentang hal ini kesimpulannya ada tiga dosa yang menyebabkan wanita itu menjadi penghuni neraka yang paling banyak dan tiga-tiganya dosa lisan semua. Bayangkan betapa gawatnya lisan gara-gara inilah maka wanita menjadi di penghuni neraka yang paling banyak.

 Pertama,  menutupi kebaikan suami.

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).
 

 Kedua,  gemar mencaci , mengumpat, mengucapkan sumpah serapah atau laknat.

Orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.

 (QS. Al-Ahzab: 58)

Ketiga, suka mengeluh.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah menghadiri shalat ied bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memulai dengan shalat kemudian khutbah tanpa azan dan tanpa iqamah. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri bersandar pada Bilal, beliau memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah dan mendorong untuk taat kepada-Nya. Beliau memberikan wejangan dan mengingatkan manusia saat itu. Kemudian beliau lewat dan mendatangi jamaah wanita lantas beliau menyampaikan wejangan dan mengingatkan mereka. Beliau berkata, “Wahai para wanita, bersedekahlah karena kalian itu yang paling banyak menjadi bahan bakar neraka Jahannam.” Kemudian ada seorang wanita terbaik yang nampak tidak berhias diri di antara mereka berdiri lalu berkata, “Kenapa wanita yang paling banyak masuk neraka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,“Karena kalian banyak mengaduh dan tidak mensyukuri pemberian suami kalian.” Jabir berkata, “Lantas para wanita bersedekah dengan perhiasan mereka. Mereka melemparkan perhiasan mereka pada kain Bilal, ada di situ anting dan cincin mereka.” (HR. Bukhari, no. 978 dan Muslim, no. 885. Imam Bukhari menyebutkan dalam Bab “Nasihat imam pada wanita pada hari ied”).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

baca lagi

Agar Muslimah siap menikah #01

yang lainnya