Kota mekkah yang gersang, dalam benaknya wanita itu tahu apa yang di butuhkan sebagai penyangga kota ini. Ia mendukung di dalam istananya bahwa akan ada seseorang yang membawa perubahan, yang membawa peradaban melalui nabi yang sudah lama kedatangannya di nanti
Saat itu, ditengah heningnya kota pada perayaan hari rajab di Mekkah, para wanita berdiam dekat berhala. Terdengar derap langkah kaki laki-laki mendekat, sosok itu bertambah nampak kemudian bersuara lantang membawa berita "akan ada seorang nabi di kota ini yang bernama Ahmad dengan tujuan di utusnya adalah membawa risalah Allah". Sosok laki-laki itu menambahkan ucapannya, "Jika siapa yang ingin menjadi istrinya silahkan menjadi istrinya". Para wanita saat itu melempari dengan mata, kata-kata dan ucapan kasar.
Namun, wanita satu antara gerombolan para wanita itu berbeda... sebab dia diam setelah mendengar berita itu.
Tunggu, akan kuperkenalkan bagaimana wanita itu...
Sebagai seorang saudagar, wanita itu punya harta dan masuk kategori terkaya. Kaumnya di kenal sebagai kaum pedagang. Wanita itu juga banyak membuka lapangan pekerjaan, memperkerjakan laki-laki dan memberikan upah atas usaha mereka.
Sebagai seorang janda, dia bergelar ath Thahirah (wanita suci) karena berhasil menjaga diri. Nasabnya baik, dia dikenal tegas, cerdas dan punya kemuliaan. Semua laki-laki menginginkan dia sebagai istri yang seandainya mereka bisa.
Setelah mengetahui bahwa ada pemuda yang jujur dalam berkata, memiliki akhlak yang mulia, luar biasa amanah dalam dirinya. Hal itu di tambah penjelasan dari budak wanita itu bernama Maisarah setelah melakukan perjalanan berdagangan bersama pemuda itu untuk mengetahui kebenaran dan dia mendapati banyak keajaiban, kemulian yang ditemui maisarah yang kemudian di sampaikan kepada wanita itu tentang dua malaikat yang bersamanya dalam perjalanan dan penjelasan rahib yang mengatakan bahwa pemuda itu seorang nabi.
Wanita itu dengan wawasannya dan ia pastikan bahwa pemuda itulah orangnya "Muhammad"
Bagaimana tidak?
Dia bukan wanita yang menikah hanya karena kesepian atau oleh sebab merindukan pelukan. Sebagai seorang wanita dia sudah mempersiapkan semuanya: harta yang banyak, kejiwaan yang kuat, ilmu, juga ketangguhan sebagai perempuan yang akan menanggung pula setengah beban dakwah.
itulah dia, wanita itu bernama "Khadijah".
Dengan kemuliannya dia memberanikan diri menerobos takdir menawarkan dirinya untuk di nikahi. Benar saja, setelah menjadi seorang istri dia mampu menenangkan di saat Rasullulah mendapat amanah yang besar berupa risalah dari-Nya tiap kali. Ketika Rasullulah mendapatkan kesedihan berupa tanggapan dan pendustaan saat itu ada Khadijah yang memberikan kelapangan dan meneguhkan pendirian dan membenarkannya.
Di saat itu dengan wawasannya, lurusnya pemahamannya... Khadijah tidak membawa Rasullullah ke dukun untuk mempertanyakan tentang ketidaktenangan setelah bertemu Jibril, namun ia memilih membawa kepada pria renta bernama Waraqah bin Naufal yang menganut agama sebelumnya secara murni dan meninggalkan penyembahan kepada berhala saat itu. Dan dia Waraqah menyampaikan hal benar.
Maka kabar gembira dari nabi untuknya, Allah dan Jibril mengirimkan salam padanya. Sepeninggalnya Khadijah, Rasullulah seringkali memujinya, Khadjah menjadi wanita dengan sebaik-baiknya wanita di zamannya dan menjadi pemimpin wanita seluruh alam. Tak hanya itu, Rasullulah seringkali memperlakukan teman Khadijah dengan perlakukan baik, Ia (Khadijah) mendapat rumah di surga dari mutiara yang berongga, mendapat kedudukan diantara wanita-wanita mulia.
Referensi
Thabari, M.A (2020). Ummahatul Mukminin: Biografi Istri-Istri Nabi Shalallalhu alaihi wassalam. Jakarta Timur: Griya Ilmu
Tuasikal, M.A.(2018). Belajar dari istri nabi. Yogyakarta: Penerbit Rumaysho.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar