Jumat, 28 Januari 2022

Agar muslimah siap menikah #02


  
“Keberkahan taat suami itu didahului keberkahan ketulusan ittiba' terhadap perintah Allah ta'ala dan Rasul-Nya shallallaahu Alaihi Wasallam, Maka biasakanlah dirimu engkau taat kepada suami dan bersabar serta meningkatkan kesabaran dalam ketaatan. Sesungguhnya engkau dalam ibadah dan sesungguhnya engkau sedang memberikan respon positif terhadap perintah Allah dan perintah Rasul-nya shallallaahu Alaihi Wasallam".



    
Diantara keadilan hikmat syariat juga karakter manusia yang baik adalah wanita itu dijadikan hidup dalam perlindungan suaminya. Wanita yang dalam perintah dan pengawasan suaminya maka tegaklah kehidupan yaitu kehidupan kepemimpinan seorang suami sebagai imam terhadap sang istri dengan keadilan di dalamnya. 

    Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad sampai kepada Nabi shallahu Alalihi wa sallam bahwa "jika seorang wanita itu salat lima waktu dengan baik, puasa di bulan ramadhan, menjaga kehormatan dan juga taat pada suami maka dikatakan padanya masuklah pintu surga dari pintu manapun yang dia kehendaki". Suami adalah penentu surga dan neraka nya istri. Banyak tulisan kenabian yang memuat motivasi untuk mentaati suami dan memuliakan kedudukannya.

     Wahai muslimah sebelum menikah sadarilah bahwa engkau nanti akan mentaati suamimu dalam kebaikan. Manusia yang paling besar haknya yang wajib di tunaikan oleh seorang wanita setelah menikah adalah berbakti pada suamimu, sedangkan suami hak yang wajib ia tunaikan adalah berbakti pada ibunya. Maka untukmu, janganlah menghalangi bakti suamimu terhadap ibunya, sebab kedudukan ibunya lebih tinggi darimu. Dan suamimu punya kedudukan yang lebih besar dibandingkan orang tuamu sendiri.

    Jadilah kamu wanita yang penurut, wanita yang mengakui besarnya hak suami, menunaikan hak tersebut dengan penuh rasa senang, bahagia dan gembira. Dalam sebuah hadis di jelaskan bahwa "seandainya kuperintahkan seseorang untuk sujud, maka aku perintahkan seseorang untuk bersujud pada suaminya". Lihatlah hal ini, sujud itu sendiri ada dua makna yaitu sujud ibadah yang hanya dilakukan pada Allah semata dan sujud dalam arti penghormatan.

    Taatmu, kemuliaan padanya, hormat pada suamimu adalah adab dan bentuk berbuat baik yang kokoh. Perbuatan baik ini akan di balas baik. Suami jika menjumpai istrinya berbuat baik seharusnya dia juga berbuat dan bersikap baik pada istrinya. 

    Batasan taat yang ditetapkan adalah selama tidak dituntut dua hal haram, yaitu:
  • Suami yang meminta apa yang Allah murkai, maka tidak boleh taat. Seperti misalnya berhubungan saat haid, analseks dll.
  • Suami yang meminta hal yang di luar kemampuanmu. seperti misalnya, kondisi fisik seorang istri lemah, dia tidak boleh banyak bersentuhan dengan air, dimana sang suami memintanya untuk mencuci baju secara manual yang membuat sang istri jatuh sakit. Maka permintaan semacam ini tidak wajib ditaati sebab ini sesuatu yang di luar kemampuan.
   Tidak akan jadi baiknya kepemimpinan keluarga ketika kamu memaksakan pendapat kepada suami dan semestinya hal ini tidak ada. Seperti contoh dalam liburan berbeda pendapat menentukan jalan mana yang akan di ambil. Sang suami mengisyaratkan jalan A, sementara istri jalan B. Istri enggan menurut, sehingga sepanjang perjalanan itu ngomel dan bete. Hal ini mesti kamu tinggalkan wahai wanita sebab mungkin saja dengan memaksakan kehendakmu akan membuat rumah tangga tidak harmonis.

  "Istri yang baik itu banyak mengambil sikap longgar ketika suami telah memutuskan. asalkan keputusan sang suami bukan maksiat dan hal yang membahayakan".

    Bahwasannya balasan kebaikan adalah kebaikan di mata orang-orang baik. maka ketaatan yang engkau upayakan pada suamimu seperti sikap "penurut" akan mewujudkan ketaatan suami padamu dalam hal yang engkau pinta wahai seorang istri. Karena istri yang penurut itu meneduhkan di mata dan hati laki-laki terlebih suami, sehingga ketika sang istri itu meminta sesuatu suami tidak kuasa menolaknya, tidak tega untuk menolaknya. pada dasarnya jiwa yang mulia itu memiliki fitrah dan karakter untuk membalas kebaikan dengan kebaikan. 

 sebab " tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan".

     Makna taat itu sendiri adalah melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya. Jangan berpuas diri hanya bertindak ketika suami memerintahmu, namun berinisiatiflah dalam usahamu. KARENA ada level yang lebih baik dari hanya sekedar taat yaitu janganlah dirimu menunggu suamimu memerintah, meminta, melarang terlebih dahulu. Namun perhatikanlah kesehariannya (apa yang dia sukai dan tidak suka) dan hendaknya perbuatanmu itu lebih dahulu daripada perkataan suamimu meminta ini dan itu. Sesederhana membuatkan kopi kesukaan suami selepas pulang kerja, berdandan di rumah. Sebab jikalau kamu sudah berada pada level  ini menunjukan kecerdasanmu sebagai istri (cerdas membaca kebiasaan dan keinginan suami) dan kemulianmu dengan bersegera melakukan kebaikan.

    Selain itu hal ini, berarti kemuliaan bagi dirimu yang tidak ingin di perintah, sebagaimana timbulnya perasaaan pada banyak atau sebagian perempuan yang merasa seperti pembantu, layaknya babu dan saya tidak mau diperintah ini dan itu. Maka dengan inilah banyak istri-istri di luar sana membangkang. padahal tidak dengan itu caranya, Jika ingin punya jiwa yang mulia, tidak seperti jadi pembantu. maka caranya adalah dengan bersegera melakuaan kebaikan sebelum suami memerintah dirimu. Disinilah besarnya pahala ketaatan ini mengharuskan untuk komitmen dengan taat di sepanjang waktu dalam pengertian, Jika suami memerintahkan sesuatu atau melarang sesuatu janganlah engkau menunggu perintah setiap kali  karena ini satu hal yang tidak disukai oleh lelaki yang berakal

    Seringkali seorang suami menegur dan menegur istrinya karena harus berulang-ulang memberikan perintah yang sama dan larangan yang sama. Suami kemudian mengatakan "harus berapa kali kukatakan lakukan demikian dan demikian dan jangan lakukan demikian dan demikian. Supaya ini tidak terjadi maka hendaknya ketaatan istri kepada suami itu sepanjang waktu, suami cukup sekali setelah itu dilaksanakan, suami melarang cukup sekali setelah itu ditaati.

    Maka jika engkau mengetahui dari akhlak suami tidak suka sesuatu atau meminta sesuatu, Jangan menunggu munculnya perintah dan larangan tersebut sebab tindakan ini diantara hal yang mengharuskan menimbulkan kebosanan suami dan kejemuan suami terhadap istrinya. Seperti kasus, seorang suami ingin agar istrinya berdandan, namun istri dandannya harus nunggu perintah suami padahal sudah berkata tolonglah kalau malam itu berdandan yang wangi, yang menarik dan ternyata ini harus nunggu perintah kalau tidak ada perintah maka sang istri enggan. hal ini akan membuat dampak suami bosan mengalami titik jenuh dan itu bahaya bagi rumah tangga.

   Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu salam bersabda "Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya lantas tidak datang dan semalaman suaminya itu sangat marah kepada istrinya, maka malaikat melaknat istri sampai pagi tiba".

    Dalam riwayat Muslim saja Rasullulah Shallallahu salam bersabda "demi Allah Dzat yang jiwaku ada di tangannya, tidak ada seorang laki-laki yang mengajak istrinya ke tempat tidurnya lantas istri enggan kecuali Allah zat yang ada di atas sana marah-marah kepadanya sampai suami ridho dengan istri tersebut".

    Engkau wahai istri tidak memiliki hak untuk menolak ketika diminta oleh suami. Bahkan mayoritas bangkitnya emosi dan pergantian keadaan suami dari keadaan yang menyenangkan jadi tidak menyenangkan itu adalah karena ketidakmaksimalan dalam memuaskan keinginan suami dalam masalah ini yaitu masalah hubungan biologis. Maka jika suami tidak mendapatkan permintaan ini, akan nampak dihadapan matanya semua yang jelek dari dirimu wahai seorang Istri. Dan akan tertutup dalam pandangan sang suami semua yang indah dari istrinya.
    Hendaknya engkau Seorang Istri siap untuk melayani suami disetiap malam dengan memakai pakaian yang terindah yang ada dan pemandangan yang paling manis yang bisa dilakukan dan jadikanlah hal ini kebiasaanmu wahai seorang istri setiap kali pergi ke tempat tidur, meskipun suami tidak memintamu demikian. Jadikan ini kebiasaan malam hari ketika mau tidur itu berdandan dan wangi meskipun tidak ada acara khusus yang diminta oleh suami.

    Maka dengan hal tuh engkau akan mendapatkan rasa cinta suami dan engkau akan jauh terjauh dari celaan dan kritikan suami karena ketika suami itu kebutuhan biologisnya dipuaskan maka kondisi rumah yang agak berantakan DAN keadaan anak-anak yang agak tidak terurus dengan baik itu dimaklumi, masakan yang kurang lezat itu jadi enak syaratnya kebutuhan biologis suami dipenuhi secara maksimal. 

    Jika engkaulah istri itu ada faktor penghalang secara fisik dan psikis yang menjadikan dirimu tidak menyukai hal itu (hubungan suami istri di malam itu) maka segeralah meminta maaf dan sebutkan alasannya. Meminta maaf yang sempurna itu meminta maaf dan menyebutkan alasan (maaf tidak bisa melayani malam ini dengan sebab begini-begini) kalau meminta maaf TANPA menyebutkan alasan ini itu menyebabkan hati orang yang dimintai Maaf kurang bisa maksimal terbuka. Sebutkan alasan itu tidak dengan bahasa meninggi, dengan nada yang keras, namun ini dengan lembut dan hikmah yang logis yang bisa diterima yang bisa menyebabkan orang yang dimintai alasan itu memaklumi kemudian sampaikan dengan bahasa yang lembut, bahasa merendah. Dan siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan jadikan baginya jalan keluar dari perkaranya. Jadi, antara bentuk takwa kepada Allah adalah minta maaf dan yang telah disebutkan maka jalan keluarnya apa suami memaklumi.

    Sebenarnya istri bisa memberi solusi kalau misalnya alasan bilang "silakan kalau mas ada kebutuhan silahkan tapi saya tidak aktif mohon dimaklumi" dan nanti kalau kalau seandainya cara suami itu tepat sehingga istri terangsang nanti bisa aktif setelah. Nanti bisa aktif di akhir kemudian atau solusi yang lain, jika ini jadi kebutuhan mendesak suami maka beri solusi suami dengan mengonani suami karena istri mengonani suami itu adalah onani yang halal, ketika memang kebutuhannya adalah kebutuhan mendesak dan darurat.

disampaikan oleh Ustadz Dr. Aris Munandar, SS, MPI




 

    

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

baca lagi

Agar Muslimah siap menikah #01

yang lainnya