Bertanya keberadaan nya walau ujung khimar nya saja langkah terekam netra. Beberapa waktu belakangan tak kunjung berseliweran di beranda sosial media atau mungkin lewat stori yang di unggah. tak lagi nampak postingan yang mengingatkan pada kebenaran. memilih bersembunyi, namanya asing dari kalayak, tak bising dan tenang.
Ternyata setelah mencari tau keadaan nya sekarang dia tengah bergulat hebat dengan diri nya sendiri dengan sanak saudara, keluarga, tetangga untuk bisa mempertahankan syariat. Lebih fokus menelaah kitab ulama, lebih senang menghapal dan membaca tafsir kitab suci alquran, sibuk menambah hapalan.
Aku beranikan bertanya mengapa meninggalkan kesenangan ini padahal masih banyak yang bisa di ambil untuk akhirat. Bisa menebak bagaimana jawabnya ? berhasil membuatku kehabisan kata. Bilangnya begini.
“Aku hanya ingin memantaskan diri, meningkatkan kualitas diri, mengajak orang sekitar pada ilmu yang telah Allah beri padaku. Sungguh aku tak ingin jika lalai terlalu jauh, menjadikan dunia segalanya mengajak orang banyak dan ingin terlihat baik di hadapan mereka yang menurutku menipu. Padahal keadaan diri saja masih terseret paksa untuk bisa menjalankan perintah-Nya, keadaan keluarga saja masih bebal untuk menerimah ketetapan juga lunak hati menerima kebenaran. Kalau kau menanyakan kemana aku pergi maka aku masih di sini di bumi jika tidak kau temukan aku di rumah maka masih kau temukan aku terkapar di sana, tulang belulang tertimpa papan juga sempitnya ruang. Tak penting bagiku di kenal kalayak jika Allah saja tak mengenal diriku. Penduduk langit tak membicarakanku".
Basyr bin Al Harits Al Hafiy mengatakan, “Aku tidak mengetahui ada seseorang yang ingin tenar kecuali berangsur-angsur agamanya pun akan hilang. Silakan jika ketenaran yang dicari. Orang yang ingin mencari ketenaran sungguh ia kurang bertakwa pada Allah.”
Kamu tidak mau jika hanya saliha di dunia maya namun sangat nol didunia nyata. Maka pilihmu menutup akunmu sebab takut jika itu membuat lalai dari mengingat Allah. Tetaplah jadi dirimu, jangan terusik dengan komentar mereka di luar sana yang tidak mengerti betapa nyamanya hidup tanpa harus menilai orang dari berapa banyak likes, coment,views, shere di akun sosial media. Tetaplah tenang dan nikmati hidup mu dengan menjadikan Dia rida dengan menitih jalan Rasullulah.
Jangan membuat diri sibuk menanyakan kemana pergi nya? bagaimana keadaannya? coba berbaik sangka atas pilihan, sebab ada saja bermacam jalur yang dipilih yang memang demi kebahagian yang lebih, demi mempersiapkan bekal untuk nikmat yang kekal.
Kamu lagi-lagi mengingatkan diri bahwa menjadi saliha tidak mudah. Di saat yang lain berlomba tentang angka yang paling banyak di sosial media, kamu malah memutusnya. Bukan menghilang dari peradaban, bukan. Memang tak mudah mengontrol diri, membagi waktu. Akhirnya, pilihmu mengakhiri agar tak terperosok terlalu jauh.
09/08/2020
📝 Yessi lestari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar